Andai saja…

Kejadiannya ‘sepele’ setidaknya buatku dan anakku yang semalam berniat nonton film gratis “earth day”, tapi bisa jadi menggugah kembali sebuah kesadaran yang seringkali terkubur oleh begitu banyak persoalan dan kebutuhan hidup di kota besar. Dalam perjalanan yang agak berkeliling-keliling mondar-mandir karena kurang paham dengan yang namanya jalan Samratulangi, tibalah kita berdua di perapatan dekat taman Menteng. Mendekati mobil depan, seorang ibu berusaha menjajakan dagangannya. Ibu itu tampak ‘berukuran agak mungil” hehe… Terus ku amati, karena hanya kepada bapak dan ibu tua aku lebih ikhlas memberi sesuatu daripada kepada anak-anak, atau mbak-mbak dan mas-mas, apalagi yang bodinya masih meyakinkan untuk bekerja keras. Anak-anak, seringkali membuatku konflik batin. Disatu sisi aku merasa terenyuh, dan kasihan. Tapi di sisi lain, ntah lah, mungkin aku terlalu sok berpedoman pada prinsip pembelajaran ala reward dan punishment yang intinya ‘memberi’ sama artinya dengan mengajarkan kebiasaan buruk pada anak, yaitu meminta-minta dan malas bekerja. Belum lagi cerita tentang pemanfaatan anak-anak oleh oknum-oknum orangdewasa yang ingin mencari keuntungan tanpa bekerja keras, hingga ahirnya ku selalu berusaha menekan rasa trenyuh dan kasian itu.. Tapi sudahlah.. bukan itu yang ingin aku ceritakan disini.

Pendek kata, niatku lebih bulat untuk memberi pada ibu dan bapak tua. Nahh ibu ini, biar kecil tapi ‘tua’, dan jualan pula bukan meminta-minta🙂 Tiada ragu dan tanpa acara konflik batin di hati, aku besiap membuka jendela.. Ops !! hampir aku batalkan karena melintas lah rasa ragu sejenak. *Maafkan aku, bola mata ibu itu besar sehingga terlihat agak menyeramkan.. Hmmhh.. untung bisa ku tepis perasaan yang agak berprasangka itu. Dan, aku beli semua tissue yang dia punya, ternyata cuma 4 dengan ukuran sedang dan berharga total 10rb rupiah. Baru terucap kata, saya beli bu.. nada suara dan ekspresi gembira sudah terlihat di raut mukanya. Alhamdulilaaahh…, katanya. Setelah kubilang semuanya aja bu, mengalirlah kata Alhamdulillah ber ulang-ulang dari mulutnya dengan tubuh membungkuk-bungkuk berulang pula.. Ah, terharunya aku..😦 Sayang lampu merah sudah berubah jadi hijau. Sementara anakku masih sibuk cari uang 10ribuan. Yah nak.. kumaha sih? ahirnya tergopoh-gopoh ku turun tangan. Ku keluarkan 1 lembaran itu. “Cuma” 10 ribu rupiah..

Dan mobil ku segera pesat berlari, karena seperti kita maklumi bersama, di kota Jakarta semakin banyak saja orang-orang tak sabar yang ber ulang-ulang meng-klaksoni aku. Andai aku tidak terburu-buru.. Andai aku diberi waktu untuk berpikir sejenak.. Andai aku memberinya lebih banyak..😦 Menyesal… Dan ucapan syukur seraya badan terbungkuk-bungkuk dan raut bahagia-nya jadi membayang-bayang.. Bayangkan bahagia itu untuk nilai 10 ribu rupiah loohh, dan kurasa itu pun nilai kotor, bukan keuntungan. Kalau saja dia mengambil keuntungan 500 rupiah/bungkus, berarti hanya 2 ribu rupiah saja miliknya untuk 4 bungkus itu.. Oh Tuhan, betapa sedikitnya :(( Sementara keluh kesahku begitu banyak untuk nilai uang yang jauh berlipat darinya, dan syukurku mungkin tak terbandingkan dengan syukurnya yang tulus itu. Akh.. Andai saja…

NN
23 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s