The other side of Toba

 

Indahnya Toba - di belakangku

 

Hari terahir Assessment Centre selalu menjadi hari yang di nanti-nanti ;)  karena  identik dengan jalan-jalan,  dan bisa jadi akan sampai ke luar kota.  Danau Toba kah??  hmm..  Kalau langkah kaki sudah sampai  Medan, wo-ow, masa  tega sih danau terbesar di Indonesia itu  dilewati? besok-besok belum tentu datang kesempatan kedua. Betul?

Awalnya ragu karena butuh waktu 4 jam untuk tiba disana, tapi  setelah di hitung hitung hitung, ternyata waktu masih sangat memungkinkan, dan teman-teman dari PLN juga berkeinginan sama,  jadi tunggu apa lagi? so.. to my dearest Danau Toba !! I’m comiiing !! ….

Berangkat malam pun jadi lah..  Aku yang memang sering sulit tidur di perjalanan  mencoba melihat-lihat sekeliling.  Sayang lebih banyak gelap daripada terang, jadi aku hanya bisa melihat secara samar-samar dan menduga-duga apa yang aku lihat.  Rumah dan gereja jadul nan indah kah ?? perasaan sih gitu tapi bisa jadi aku salah tebak🙂..

Sekitar jam 11 malam, tiba lah kami di Toba, gelapnya malam membuat aku hanya mampu melihat lampu2 rumah seputar danau, dan  kilauan-kilauan cahaya memantul di air danau…  Tak sabar menanti hari esok, malam itu di wisma PLN  tepat di tepi danau,  aku bergegas tidur…

Lho kok ??😦

Bangun tidur, aku tak menunda mandi.. rasanya tak sabar ingin segera  berada di tepi danau.

Sendiri aku setengah berlari menuju pagar, dan… yaaahh.. ternyata aku.. kecewa..  Begitu melewati pagar,  yang kulihat, danau itu tidak seindah yang ku bayangkan. Sampah di mana-mana, di atas air di pinggiran danau dan tepat di depan wisma dan rumah-rumah, vila-vila sekitarnya. Seorang ibu asik mencuci pakaian dan busa sabun pun bercampur air danau .. Hmmhh.. ini kah danau yang indah itu?  sementara pemandangan tepat di depan mataku begitu buruknya. Atau, mungkin aku yang salah letak :)  seharusnya danau ini  di lihat dari sisi yang berbeda.

 

Mencuci pakaian di pinggiran Toba

 

Ups !! kotor dan kumuh nian

Dalam hati aku menggerutu..  kenapa harus selalu ada sisi-sisi yang kurang sedap di pandang mata, ga rela amat ada tempat wisata yang benar-benar indah terlihat dari jauh dan dekat, luar dan dalam.  Tapi tak urung,  alam selalu terasa sejuk, segar dan menentramkan hati.  Aku dan teman-teman duduk sejenak di pinggiran menikmati menghirup sepuasnya udara Toba.  Hmmmhh…  alangkah nikmat hidup ini🙂

 

menghirup udara pagi di tepian danau Toba

Di depan kami puluhan kapal sewaan ber deret-deret siap berangkat ke pulau Samosir.  Katanya hanya 15 menit saja.  Jadi?? Tunggu apa lagi? Now let’s go to Samosir !!🙂 Hallah hallah… ga mau rugi banget nih judulnya.

Pulau Samosir

di tengah danau menuju Pulau Samosir

Nikmat dan sejuknya saat wajah dan rambut di terpa angin danau.. perjalanan dengan kapal melewati air memang selalu menimbulkan perasaan lain,  senang, sejuk dan segar, meski matahari cukup kencang menyoroti.   Sangat bersyukur dalam hati, bukan hanya tiba di Danau Toba, bahkan aku akan melihat Pulau Samosir,  sungguh tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Ternyata di dalam pulau itu bukan cuma terdapat musium batak, tetapi juga terdapat banyak pemakaman orang-orang Batak jaman baheula. Dan kami sempat memasuki salah satunya. Lalu berceritalah sang “kuncen” tentang makam yang berbentuk unik itu.  Sayangnya aku lupa tentang ceritanya itu.. terlalu lama aku menunda menulis ceritanya. Tapi aku selalu ingat inti ceritanya, yaitu  kisah hubungan yang begitu baik dan akrab antara seorang tokoh Islam terpandang dari Aceh dengan kalangan ningrat marga tertentu di Batak yang beragama Protestan. Very nice and inspiring story…

 

Musium Batak

 

Makam-makam terbuat dari batu besar

Mengapa 4  ??

Hmm…  ada satu karya yang menarik perhatianku, 4 bentukan payu dara berwarna pink yang terpampang tepat di pintu keluar pemakaman. Apakah arti dari bentukan itu? karena agak-agak tidak biasa bukan? Lalu berceritalah sang ‘kuncen’ tersebut diatas. Katanya, buat orang Batak  payu dara itu sangat penting artinya.  Jangan mengira wanita cantik tinggi langsing atau semampai akan laris di daerah ini.. apalagi kalau dadanya rata, no way !! hehe… Payu dara bagi orang Batak adalah seperti simbol dari kemakmuran atau kesuburan atau kesehatan, karena di situlah awalnya anak-anak mendapatkan ‘asupan sehat’. Bisa jadi hal ini berarti juga awal yang baik ;)  Oleh sebab itu lah, masih menurut bapak itu, bagi orang batak, mempunyai istri dengan buah dada tampak subur adalah sebuah kebanggaan. So ladieess.. !! yang kurus-kurus, ceking-ceking, dada rata.. sekalipun anda bak bintang film kelas dunia, urungkan niat kalian tuk tebar pesona di daerah ini..🙂

dan bapak ini sedang memperhatikan yang 4 itu kah?..😉 hihihi..

Lalu kami memasuki sebuah kompleks 4 rumah keturunan raja yang tadinya kukira rumah peninggalan tak berpenghuni. Ternyata aku salah di dalamnya situ masih ada beberapa keluarga, maka urunglah kami masuk kedalamnya, sayang sekali.  Didepannya ada sebuah patung kayu pelengkap acara upacara. Dulu, saat upacara   konon patung tersebut akan bergerak-gerak sendiri mengikuti irama musik karena  telah roh merasukinya,  ‘sayangnya’  sekarang hal itu sudah tidak dilakukan.  Tapi, patung ini  masih tetap bisa bergerak,  kata si bapak. Yeee ah yang bener??  mendengar apa katanya aku langsung was-was dan urung mendekati…   tapi lanjutnya, itu karena ada tali-tali penarik di dalamnya..  Hallaahh… si abang bisa juga kau berbuat iseng bah !! hehe… Syukurlah kalau begitu.  Maka aku pun berani tampil ber-gaya berpotret ria bersama si patung🙂

bu Yanti, Inggi, Tria dan aku

 

berani di foto bersamanya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Banyak yang ingin dikunjungi tetapi waktu begitu mendesak sehingga berkunjung ke tempat apapun menjadi terburu-buru.. Hanya dalam waktu kurang dari 2 jam kita harus sudah berada di dermaga untuk menyebrang kembali pulang ke Wisma dan pulang ke Medan… :(  Semua cerita menarik itu akhirnya hanya terdengar sambil lalu, kurang bermakna. Tapi… tak apa lah. Yang penting aku sudah pernah mengunjungi Toba dan Samosir…    Itu sudah sangat menyenangkan.

Daann… kami pun bergegas kembali ke arah dermaga, eeh.. ke toko souvenir dulu dong..🙂

* Terimakasih  teman-teman ku di Jasdik PLN, dan tentu saja mbak Cici  Kaloh sebagai sumber pengajak utama  yg tidak pernah ikut hehe…, semoga someday, somehow, somewhere kita kan berjalan-jalan lagi.. ke tempat yang berbeda dan indah tentu saja😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s