Integritas sang Wartawan

Waktu wawancara jadi panjang. Ketika teman lain sudah hampir tamat mewawancarai semua kliennya, ternyata aku baru memanggil orang terahir. Kenapa? Hihi.. biasaa.. keasikan denger cerita..  Tampaknya dia termasuk wartawan yang cukup senior di kantornya.  Siapa suruh dia banyak cerita. Memang sih seharusnya aku “cut n cut” tapi siapa suruh ceritanya seru? Hehe.. Maka jadi lah aku tidak ingin meng“cut” nya.

Rupanya pengalaman kewartawanannya sudah cukup melintang pukang kesana kemari..  Didaftarkan ke PBB untuk  dikirim ke daerah perang di Bosnia, padahal tidak ada jaminan selamat kembali ke negeri sendiri. Lalu meliput ke Papua saat sang Jenderal Prabowo berada disana karena terjadi gejolak, dan sebetulnya cerita yang ini sangat menarik, tp aku tidak memilihnya untuk menuliskannya disini. Takut aahh.. takut salah cerita.. Dan masalahnya ini juga cerita katanya, kata wartawan, kalau banyak persepsi subyektif bagaimana? Kan buahaya..

Maka aku lebih memilih cerita menarik lainnya. Kali ini terkait dengan kompetensi integritas, nu susah tea😉 Maka cerita dia tentang wartawan amplop pun menjadi beraneka warna. Konon dalam dunia liput meliput ada jenis amplop “wajib”, maksudnya jatah uang lelah atau ucapan terimakasih dari narasumber. Ini dianggap biasa oleh para wartawan. Tetapi ada juga amplop untuk kepentingan pribadi narasumber. Misalnya yang diiringi pesan: berita yg ini jangan dimuat, tapi tolong muat berita yg itu.. dan sejenisnya. Nah untuk yg satu ini tentu saja tergantung nurani dan idealisme sang wartawan sendiri, mau pilih mana? Amplop atau kebebasan memberitakan?

Diawal karirnya sang wartawan juga pernah menikmati amplop model demikian. Saat itu katanya ia masih sangat muda, baru terjun, dan belum paham dengan dunia amplop. Pikirnya itu adalah hal yang biasa terjadi. Tetapi rupanya idealisme nya masih cukup menyala-nyala sehingga ia masih mampu untuk berpikir  lurus :)  Sejalan dengan waktu dan bertambahnya pengalaman, maka sampailah ia pada sebuah keputusan untuk mengangkat derajat profesinya. Ia menolak amplop-amplop itu, meskipun hanya sekedar uang lelah, apalagi bila diikuti permintaan pribadi. Dan keputusan ini berlaku juga dalam lingkungan kantor berita tempatnya bekerja. Ia menolak tawaran atasan untuk menduduki jabatan tertentu. Pasalnya ada satu syarat yaitu ia harus membela atasan dari ‘musuh-musuh’ nya. Dan ia tidak setuju dgn itu. Akibatnya.. hidupnya pun menjadi ter lunta-lunta dalam artian tidak pernah ada lg jabatan ditawarkan kepadanya. Dan ia pun sempat mengalami konflik batin mempertanyakan idealismenya sendiri.. sampai ahirnya terjadi perubahan situasi.. kepemimpinan mengalami pergantian di kantornya.

“Terlunta-lunta” di kantor, tetapi pengalaman jurnalistiknya membawa cerita lain. Sejalan dengan keinginannya mengungkap peristiwa 27 Juli yang tidak pernah terpecahkan ia pun ‘mengejar’ seorang Jenderal sebagai narasumber yang dinilainya tahu banyak tentang peristiwa itu. Maka mulailah ia berusaha untuk mendekatinya; mendapat berita dari sumber pertama itulah yang di impikannya. Cerita langsung  mulut sang Jenderal..  hmm… Dimulai dengan selalu mengikuti kegiatannya, gencar memberi pertanyaan berani dan berbobot maka lama kelamaan sang nara sumber mulai hafal dan ingat padanya. Kedekatan mulai terjalin dan ia menjadi sering mendampingi untuk meliput perjalanan kerja sang jenderal. Dan.. ahirnya tibalah saat yang ia nanti-nantikan itu; mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara pribadi di ruang pribadi sang Jenderal. Bersorak lah hatinya. Itu merupakan sebuah keberhasilan dan kebanggaan luar biasa bagi seorang wartawan…

Dan.. di ahir wawancara, ternyata ia disodori amplop. Untuk apa? Katanya tidak untuk apa-apa, karena sang Jenderal memang tidak menginginkan apapun. Itu hanyalah sebuah kebiasaan, memberi uang lelah. Dan ternyata.. kali ini, tawaran itu malah jadi sangat menyakitkan hati sang wartawan; ia seperti disadarkan bahwa meskipun telah berusaha keras dan berhasil menjadi orang yang cukup dekat tetapi ternyata ia masih tetap dinilai sama dengan wartawan amplop. Dan itu membuatnya sangat sedih. Ia pun menolak dengan halus, dan tidak sanggup menahan airmatanya. Di hadapan sang Jenderal ia mengungkapkan perasaannya bahwa baginya, mendapat kesempatan mewawancarai langsung di ruang pribadi, secara pribadi.. adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan luar biasa. Itu sudah lebih dari segalanya… tapi pemberian amplop itu seolah telah meluluh-lantakan rasa bangganya.

Dan apa yang terjadi? seketika sang Jenderal memerintahkan ajudannya untuk memberikan nomer HP pribadinya, dan sang wartawan pun dinyatakan sebagai teman dekatnya. Maka sejak itu berubahlah pola hubungan diantara keduanya, menjadi sebuah hubungan pribadi dan pertemanan yang dekat. Yang berarti sang wartawan selanjutnya mendapatkan kemudahan akses, dan pelajaran berarti.. bahwa betapa tinggi nilai seorang wartawan ketika ia mampu menjaga integritasnya meskipun untuk itu ia harus melewati masa-masa yg sangat sulit.

NN ahir tahun 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s