Menjadi Ibu adalah Lelah yang Membahagiakan

Tuhan itu Maha Adil, tak pernah sekejappun aku meragukannya…

Saat hamil dan melahirkan bukan cuma ‘derita’ yang aku rasakan.
Betul, di awal kehamilan mulai terasa mual-mual dan “jatah” muntahku adalah 1x dalam sehari..  masih lumayan “siksaan” masih ringan dibanding yang lain :)  Lalu di ahir masa kehamilan rasanya gak keruan. Tidur susah, duduk susah, hadap kanan salah, hadap kiri salah, tengkurep? walaahh.. dah rindu banget, rasanya ingiiinn sekalee… Jongkok? itu namanya lebai.  Selalu ingin dan ingin pipis, semakin lama semakin sering, gimana bisa tidur? Makin hari makin lelah, kurang tidur, dan ‘cilaka’nya harus melahirkan pula.. Alamaaakkk…

Inilah dia puncaknya derita?? tapi kok hamil melulu?? hue he he he… Disitulah letak Kehebatan Tuhan.

Itu lah adilnya Yang Maha Adil. Karena memang bukan hanya derita yang dirasa. Tapi ada rasa-rasa indah yang tidak akan mungkin – karena sulit – untuk diceritakan pada orang-orang yang tidak pernah hamil. Bagaimana senangnya ketika memandangi dan merasakan perut yang mulai semakin membesar. Bagaimana rasanya makhluk kecil itu, ada di dalam perut kita, dan mulai bergerak-gerak, me-nendang2 (katanya), menggelitik kecil (mungkin).. Waaahh.. sungguh indah dan nikmat tak terkatakan.

Lalu, saat melahirkan.. sakit? ya iyalaaaahh.. setidaknya begitulah yang aku rasakan. Khususnya saat kelahiran bayi pertama. Sudah disuntik setiap setengah jam, mulespun tak mau bertahan lama, sampai akhirnya harus dibantu dengan infus.. Hmm.. baru deh rahimku bereaksi keras.  Mules mules dan muleeeesss… Tapi, ketika sudah tak tertahankan ingin mengeluarkan si makhluk mungil itu, ternyata aku harus menahannya seuu- kuat tenaga, karena dokter tak kunjung tiba..  Alamaaakkk sakit dan beratnyaaaa hidup saat itu kurasakan…

Tapi, lagi lagi…
Setelah semua proses melahirkan dan kesakitan itu berlalu.. Oh My God.. rasa yang lain yang belum pernah kualami kembali menyelinap… Plong !!, legaa.., bahagia, indahnya juga tak terkira…. Bukan cuma karena beban yang 9 bulan dan puncak kesakitan itu berlalu, tapi suara tangisan bayi itu lho .. dan,  kemudian melihat bagaimana makhluk mungil itu diangkat digendong dan ditidurkan di dadaku.. dan dia anakku.. Alamaaakkk indahnyaaa…huhuhu.. Tuhaaan aku sungguh terharu…

Lalu mereka mulai besar, mulai nakal, lari kesana kemari, mau ini dan itu, makan ini dan itu.. Pandangan mata, pelayanan dan pengawasan hampir satu harian penuh, berbulan-bulan bahkan tahun demi tahun akan terus berjalan.. Kalaupun ada yang menggantikan tapi konsentrasi itu tetap tak terpecahkan.. Lelah?? Ya !! sangat !! Tak ada waktu untuk diri sendiri. Ketika sempat pergi sendiri pun selalu berpikir tentang anak. Atau, tak lama kemudian aku kembali dipanggil untuk segera pulang karena anakku ini dan itu bla bla bla… Dan, saat jalan-jalan ke Mall pun, ahirnya keranjang kita akan berisi penuh pakaian dan keperluan mereka, bukan aku..🙂

Tapi…
coba perhatikan ekspresi wajah si makhluk mungil itu yang selalu berubah gembira dan seperti ingin melompat saat melihat kehadiran ku, selalu ingin aku gendong, selalu ingin aku di dekatnya, bersamanya.. Waahh.. betapa berartinya aku baginya.. Ada rasa dibutuhkan yang belum pernah aku miliki sebelumnya.

Sekarang, saat mereka sudah besar. Lelah fisik mungkin berkurang, tapi digantikan oleh lelah yang lain.. Lelah menyuruh, lelah mengingatkan, lelah menegur, lelah mengkhawatirkan.. pokoknya teteuuupp lelah deh judulnya. Bahkan ketika mereka bersedih, aku juga begitu dalam ikut tenggelam dan merasakannya….

Tapi…
mendengarkan kekesalan mereka saat aku harus pergi, mendengar keinginan mereka untuk jalan bersamaku, mendengar harapan mereka agar aku ada diantara mereka… membuat aku merasakan hal yang lain lagi. Betapa berartinya aku buat mereka, betapa berartinya aku sebagai seorang ibu..
Dan…saat bersama mereka, mendengarkan cerita, mendengarkan curhatnya, melihat airmatanya mengalir, merasakan duka dan gembiranya.. Akh.. betapa luar biasa perasaan ini..
Pasti hanya ibu yang dapat merasakan semuanya secara lengkap dan utuh…

Lalu, setelah merasakan anugerah yang begitu indah melimpah dan seolah sengaja dirancang secara ‘special edition’ oleh Tuhan, untuk menggantikan ‘derita’, rasa sakit dan rasa lelah yang dialami seorang ibu, masih pantaskah aku meminta balas jasa ? apalagi kepada anak-anakku?

Hanya ingin melihat anak-anakku sehat, gembira dan menjadi orang yang soleh/solehah, bermanfaat, berharga, bernilai bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang lain, mudah-mudahan bukan sesuatu yang berlebihan ataupun sebuah permintaan balas jasa dari anak-anakku, atau siapapun..

Syukur Alhamdulillah..
aku ucapkan kepada Nya yang Maha Indah, yang Maha Adil dan Maha Hebat
yang telah menciptakan sebuah sistem kehidupan yang begitu luar biasa..
Aku tak butuh keajaiban lain ataupun sebuah mukjizat untuk meyakini keberadaan Nya
Seluruh kehidupan ini adalah ajaib dan mukjizat bagiku.

Allahu Akbar…

NN 23 Des 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s