Hebatlah dengan cara sederhana

Pak Sidik, tanpa kaki

Pak Sidik (www.kabarinews.com)

Orang-orang sederhana itu muncul di acaranya “Kick Andy”. Dandanannya tetap terlihat sederhana, meskipun mungkin mereka sudah berupaya mematut diri dengan pakaian yang paling bagus dari yang dimilikinya. Cara bicaranya sederhana, bahkan kadang terkesan lugu dan lucu. Bahkan mereka menggambarkan ‘kehebatan’ dirinya dengan cara yang sangat sederhana di sela2 tawa dan keceriaannya.

“Dikasi hidup sekali saja saya sudah bersyukur. Tuhan sudah memberikan kesempurnaan, meski saya harus buta,” ujar Zulhadi. Sementara bagi Sidik yang terlahir tanpa kaki, kecacatan bukanlah sesuatu yang hakiki bagi sebuah kehidupan. “Tuhan memandang kita bukan dari cacatnya, tapi dari kebaikan sama sesama. Kalau kita baik, Tuhan akan suka,” ujarnya.

Sidik menjadi produsen kerupuk berbahan dasar singkong yang ia jajakan sendiri. Meski tak punya kaki, Sidik setiap hari berbelanja bahan kerupuk dan menjajakan hasil produksinya dengan mengendarai sebuah motor, yang ia rancang khusus.

Sementara Zulhadi yang buta, berjualan kerupuk yang diambilnya dari seorang pengusaha kerupuk. Setiap hari ia menjajakan kerupuk ikan dengan bantuan sebuah tongkat. Ia berjalan dari pagi hingga sore, bahkan kadang sampai malam. “Kadang saya kesasar atau malah kecebur got,” ujar Zulhadi yang diiringi tawa kecilnya.

Paini dan Seke adalah penyandang cacat kaki dan tangan. Paini bekerja wiraswasta membuat aneka makanan kecil dan sedang mencoba usaha jahit menjahit. Ia juga merekrut penyandang cacat lain untuk bekerja bersama-sama, dan membuat usaha yang diberi nama “Kuber Penca” atau Kelompok Usaha Bersama penyandang Cacat. “Saya kasi mereka motivasi gini, saya cacat, ayo kamu yang cacat juga bisa. Kita buktikan kalo yang cacat mampu”. Paini memuji karyawannya yang tidak punya kaki tetapi pintar menjahit. Bahkan ia menggunakan kata ganti yang sangat sopan yaitu “beliau” ketika memuji keahlian jahitnya.

Sementara Seke yang memakai satu kaki palsu dengan kedua lengan tanpa telapak dan jari, sehari-hari memiliki profesi ganda. Pagi-pagi menjadi sopir angkutan kota (dengan mobil milik sendiri) dii kawasan Cengkareng, dan siangnya menjadi tukang gigi. Bagi Seke hidup ini selalu patut disyukuri dan dijalani secara mandiri. Ditanya kenapa tidak cari uang dengan cara mengemis di jalan. Dengan hati-hati karena takut menyinggung perasaan orang, dan sambil senyum2 nyengir ia menjawab “kayaknya itu engga bener ya?”

Menonton dan mendengarkan cerita perjuangan hidup mereka, jelas mereka adalah orang-orang yang hebat. Berusaha, bertekad keras dan “bersaing” dengan orang normal (tidak cacat) sampai berhasil memiliki usaha, menghidupi diri dan keluarganya. Tetapi mereka tidak pernah merasa dirinya hebat, sehingga kesederhanaan sikap dan perilaku tetap bertahan di dalam diri pribadinya.

Aku bukan cuma kagum akan perjuangan hidupnya, tetapi juga terhadap kesederhanaan dan keluguannya dalam menceritakan ‘kehebatannya’. Semoga saja kisahnya dapat menjadi inspirasi buat orang-orang lain, agar menjadi orang yang hebat dengan cara yang tetap sederhana….

(dari acara & website Kick Andy 2 Okt’ 09)

NN
4 Okt 09

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s