“Kacamata” Tuhan

Saat itu, Selasa 5 Agustus th 2003,  Jakarta heboh oleh ledakan bom di siang hari di Hotel Marriott Casablanca. Belasan nyawa melayang. Tidak perlu heran kalau kebanyakan mayat-mayat itu berwarna hitam gosong. Melihat keadaan pasca pemboman lewat tv saja rasanya tak sanggup.  Saat kamera menyoroti korban; mereka yang sedang menanti ajal, diambang maut. Uhh.. apalagi kalau melihatnya langsung;  rasa sedih, duka, kesal, marah bercampur aduk jadi satu.

Sebuah email (fwd) dari seorang ibu beredar. Ia bercerita tentang suaminya yang sedang berada di hotel tersebut saat kejadian. Mendengar berita adanya ledakan, ia langsung mengontak HP sang suami, Alhamdulillah suaminya menjawab. Ternyata menjelang ledakan katanya ia sudah meninggalkan hotel. Maka ibu ini pun menutup tulisannya di email dengan kata-kata. Alhamdulillah, Tuhan masih sayang sama suamiku, Dia telah menyelamatkannya dari ledakan itu.

Reaksi yang wajar. Tentu saja dia senang lega bahagia mendengar suaminya selamat. Tapi aku malah jadi miris baca tulisan itu, khususnya di kata-kata penutup. Aku merasa ada ketidak adilan disitu. Sebelumnya aku tidak dapat menahan airmata yang terus berlinangan, bahkan tersedu melihat seorang laki-laki dengan tubuh separuh gosong, tidak henti-hentinya bertakbir menyerukan ‘Allahu Akbar’ (Tuhan Maha Besar) dan ‘La Illaaha Ilallahu’ (tiada Tuhan selain Allah) ber ulang-ulang sampai suaranya melemah dan ahirnya maut menjemputnya. Kalau suami ibu itu selamat karena Tuhan masih sayang padanya, lalu apakah kematian bapak yang terbakar ini adalah karena Tuhan tidak sayang padanya, dan juga pada belasan orang lainnya? Memang siapa sih dia? Hmm.. jadi jahat deh aku.

Daripada aku ‘menuduh’ Tuhan tidak adil dan tidak penyayang maka lebih baik aku memilih untuk memaknai kata-kata penuh syukur sang ibu sebagai sesuatu yang ‘kelewatan’. Bagiku, saat itu sang ibu tidak peka terhadap situasi. Bagiku dia tidak punya tenggang rasa. Bagiku dia seperti orang egois yang hanya memikirkan kelegaan dirinya sendiri. Bagiku dia tidak mampu berempati. Kalau ada kata lain lagi yang pas, pasti akan aku sebut satu persatu karena aku merasa ada ketidakadilan disitu.

Kematian seolah jadi bermakna sebagai sebuah hukuman bagi orang-orang yang tidak disayang Tuhan. Padahal kita tahu bahwa kematian adalah sebuah ketentuan bukan hukuman. Atau, bisa jadi karena terkesan mengerikan maka kematian akibat ledakan pun kemudian dimaknai sebagai sebuah hukuman bukan ketentuan. Akh.. rasanya tetap tidak adil. Cerita dari orang-orang yang ditinggalkan sang korban juga sangat memilukan hati. Digambarkan bahwa mereka yang tewas adalah orang yang hidupnya baik-baik saja. Mungkin tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang selamat. Jadi, kenapa Tuhan ‘pilih kasih’?

Pasti ada makna lain yang lebih dalam daripada sekedar urusan hukum menghukum. Mungkin karena manusia selalu memaknai setiap kejadian sesuai dengan ‘kacamata’nya, sedangkan banyak peristiwa dalam hidup yang ternyata tidak dapat di ‘maknai’ oleh ‘kacamata’ manusia. Lalu akupun berusaha keras mencoba ‘memakai kacamata’ Tuhan.. tapi tetep susah euy…😉 dan aku pun berpikir, apa iya itu ‘kacamatanya’nya? manusia mana yang bisa memastikan? Hmm.. andai kita bisa meminjam ‘kacamata’ Tuhan, tentu kita bisa menemukan makna yang sebenar-benarnya dari setiap peristiwa hidup. Tapi pas ngga ya buat kita? dan sanggup kah kita memakainya?

NN

13 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s