Merubah rongsokan menjadi “emas” ?

_MG_0694

siap2 mau di foto

Melihat anak-anak itu bergerak lincah, mendengar dengan antusias cerita guru,  semangat menggoreng jagung2an  dan kacamata🙂, melangkah seimbang diatas  sebatang bambu,  berdiri mantap pada 2 rentang tali kecil,  hati jadi ikut riang dan mulai menaruh harapan…..  Semoga lah kelak mereka menjadi orang-orang yang kreatif, mandiri… dan, bisa membuat ’emas’ nya sendiri meskipun hanya bermodalkan rongsokan.

Rongsokan menjadi emas ?

bermain peran sambil belajar

bermain peran sambil belajar

Hmm.. kenapa engga? bagi orang-orang mandiri dan kreatif tentu hal ini dimungkinkan.  Dan orang-orang seperti ini lah yang kita butuhkan saat ini dan, di masa depan.  Orang-orang yang mampu mengandalkan dirinya sendiri untuk berkreasi membuat sesuatu yang berguna/ bermanfaat dari apa yang ada.  Dengan dasar ini lah Erry Soekresno (Konsultan Pend. & Psikologi, Trainer Guru & Ortu),  penanggung jawab kelangsungan  proses ajar mengajar berusaha mengelola TK Gratis Rosela Desa Tenjolaya – Ciwidey.

belajar menggoreng (bermain peran)

belajar menggoreng (bermain peran)

Dan, pahamlah aku sekarang mengapa  smsnya  berbunyi “aneh”.  Ada daftar “‘rongsokan’ didalamnya, minta sumbangan koran bekas, buku tulis bekas yang masih ada lembaran2 kosong,  kotak/plastik kemasan barang, botol bekas.. selop & tas bekas pokoknya serba bekas deh.. .  Rupanya semua mau dirubah jadi “emas”🙂, dan buat TK gratis  disebuah desa tentu saja ini jadi sangat tepat, meskipun tidak berarti menutup kemungkinan menggunakan barang-barang baru.

bermian, seimbang dan berani

bermain, seimbang dan berani

Barang-barang rongsokan itu digunakan untuk alat bantu dalam “bermain peran” dan juga untuk menciptakan sesuatu yang baru.   Ya! lewat “bermain peran” memang diharapkan murid TK Rosela ini  akan lebih mudah dan merasa senang saat belajar.  Mereka tidak melulu mendengarkan guru bicara, menjelaskan dan bercerita,  tetapi mereka bermain dan bereksplorasi. Peran guru/fasilitator disini adalah menyediakan, merancang “dunia sekeliling” nya agar bermain dan bereksplorasi yang dilakukan lebih terarah.

Dengan demikian tidak perlu harus mengandalkan barang-barang baru, tetapi diharapkan dengan apa yang ada, anak-anak tetap bisa belajar dan berkembang  se-optimal mungkin.

TK “gratis” Rosela

TK gratis yang “dibangun” di Desa Tenjolaya  – Ciwidey ini berawal dari  gagasan

rumah sederhana - amanah

rumah sederhana - amanah

seorang ibu yang memang tinggal disana. Ibu Didoh (sekarang kepala sekolah), di amanahi sebuah rumah sederhana oleh temannya untuk di manfaatkan dengan baik. Di desanya cukup banyak anak-anak usia sekitar balita, tetapi tidak satupun TK disitu. Maka itu lah yang terpikir olehnya,  membangun TK,  gratis tentu saja.   Menyadari ketiadaan biaya, maka gagasan itu ia lempar ke temannya SMP dulu, orang yang sangat tepat menurutku😉, dan gayung pun bersambut. Berdua bertekad untuk mengusahakan pembangunan TK yang menjadi  satu-satunya untuk saat ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata gratis itu tidak selalu berarti baik.  Gratis bisa membuat orang tidak merasa terikat, atau menjadikan sesuatu tidak bernilai. Melihat gelagat adanya kecenderungan untuk bersekolah dengan “suka-suka”, dan dengan melihat tingkat kemampuan para orangtua, maka TK gratis ini menjadi tidak gratis sepenuhnya, tetapi akhirnya murid dikenakan biaya Rp 10.000,-/bulan.

Dari bantuan teman-teman jadilah serba Bamboe

Sang teman ternyata juga merasa tidak mampu berjalan sendirian.   Bukan hal yang mudah untuk mengelola sebuah TK, apalagi tanpa tersedia dana yang pasti.  Kebetulan teman-teman se-kuliahnya di Psikologi dulu bersedia

belajar keseimbangan

belajar keseimbangan

_MG_0649

serba dari bamboe

membantu. Ada yang membenamkan diri di konsep, sistem pengajaran dan kurikulum, termasuk juga membina pemuda dan pemudi desa untuk  dijadikan guru-guru (juga bekerja sosial), sementara yang lain ikut mendukung dengan bantuan  asesmen guru, wawancara orangtua murid dan beberapa teman lain memberi bantuan berupa jasa lainnya, materi – baik uang, alat bermain ataupun barang2 bekas dan baru – serta alat penunjang lainnya untuk bermain  dan mengajar.

Dengan berbekal rasa “tahu diri”🙂 maka dibangunlah sarana prasarana bermain dengan bahan dasar yang paling memungkinkan yaitu bambu. Maka itu lah yang terpikir oleh Erry saat dia kebingungan dengan dana terbatas tetapi harus menyediakan peralatan bermain dll. nya yang dapat mendukung konsepnya itu.  Maka “tumbuh” lah bambu itu di mana-mana, termasuk dijadikan rak tempat menaruh tas anak-anak dan sepatu/sendal.

Guru-guru

guru-guru - orang desa sekitar

guru-guru - orang desa sekitar

Sang penggagas juga punya banyak teman sehingga dalam waktu tidak terlalu lama ia dapat memanggil “pasukan”. Dalam waktu singkat ia telah berhasil mengumpulkan dan menyeleksi pemuda dan pemudi  yang benar-benar bersedia, ingin dan ikhlas mengajar anak-anak di desanya tanpa di bayar, padahal  kehidupan mereka pun tergolong “pas-pasan”. Tapi kadang terlintas di pikiran sampai kapan kah mereka dapat bertahan dengan keadaan seperti ini. Bukan tidak mungkin bila suatu saat niat tulus dan ikhlas mereka akan bergeser karena terdesak kebutuhan materi.  Ini yang masih terus di pikirkan dan belum ditemukan jalan keluarnya. Saat ini 2 orang guru telah mengundurkan diri, tetapi menurut Erry dengan 5 guru kegiatan masih dapat tertangani dengan baik.

Dana/Biaya

Sejalan dengan waktu dan perkembangan sekolah. TK Rosela yang kini telah

mendengar cerita

mendengar cerita

memiliki murid tetap sekitar 50an, dan masih bayang2 sekitar 20an ini  tentu saja tidak berhenti  membutuhkan bantuan dana.  Bukan cuma untuk melengkapi dan menambah sarana prasarana belajar dan bermain,  ruang-ruang,  peralatan

penunjang seperti komputer dan printer.  7 orang guru dan 1 kepala sekolah (ibu penggagas) pun tetap

seimbang di antara 2 utas tali
seimbang di antara 2 utas tali

menjadi sumber keprihatinan.  Saat wawancara, terungkap bahwa untuk sampai ke TK, sebagian dari mereka harus mengeluarkan ongkos ojek  Rp 2000 per hari,  yang terpaksa mereka minta dari orangtua. Sementara terungkap pula bahwa pada umumnya orangtua disana bekerja sebagai buruh tani, atau kerja lain yang jumlah penghasilannya tidak tetap.  Hmm.. menyedihkan,  mudah-mudahan masalah ini dapat segera terpecahkan demi kelangsungan sebuah proses pendidikan, proses ajar mengajar bagi anak-anak kecil di Desa ini.

PAUD

Demi kelancaran dan kelanjutan sekolah ini, saat ini sedang di rintis

belajar dengan sistem sentra

sistem sentra

usaha-usaha untuk mendapatkan bantuan pemerintah PAUD, tetapi masih ada beberapa hambatan, yaitu pembuatan akte yayasan pendidikan yang menurut teman kami Notaris,  saat ini pembuatan akte yayasan bidang pendidikan terhenti karena sedang menunggu keluarnya aturan baru dari pemerintah yang mengatur hal ini.  Maka harapan besar terhadap PAUD pun sementara rupanya harus di simpan sambil terus berusaha.

Tetapi dengan niat dan keyakinan bahwa Dia pasti akan memberi jalan pada kebaikan, maka sejauh ini setelah kira-kira 4-5 bulan berlalu, TK ini dapat tetap berjalan meskipun masih

asesmen guru - lihat potensi dan kelemahan

asesmen guru - lihat potensi dan kelemahan

dengan banyak kekurangan di sana sini. Saat sedang dibutuhkan sejumlah dana, jasa, atau peralatan penunjang, ada saja teman-teman yang tergerak ketika dimintai bantuannya. Dan.. tidak terasa murid-murid itu  sudah akan menerima raport pertamanya. Alhamdulillah…

Terima kasih banyak kepada teman-teman yang telah  memberikan bantuan dalam bentuk apapun untuk kelangsungan TK Rosela. Semoga niat yang tulus ikhlas serta budi baik teman-teman semua mendapat ganjaran yang setimpal, dan limpahan rejeki, rahmat dan berkah dari Nya. Amiinn…

Bagi rekan-rekan yang ingin menyumbang uang, silahkan transfer ke Norek : 5700138536 BCA atas nama Nila Dharmayani. Kami juga menerima sumbangan dalam bentuk barang bekas dan baru yang bermanfaat untuk anak usia TK.  Mohon maaf kami belum bisa mencantumkan no. telp/HP yang dapat dihubungi karena masih banyak pertimbangan untuk hal tersebut. Tetapi bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut, untuk sementara bisa tinggalkan pesan di kolom komentar.


_MG_0700

NN

12 thoughts on “Merubah rongsokan menjadi “emas” ?

  1. Dharmanto S. Thaib

    Kepada Yth Mbak Ratna,

    Usaha yang baik dan terhormat. Saya Dharmanto, kakak dari Nila (barangkali Mbak kenal Nila). Saya dihubungi Nila mengenai perihal ini. Saat ini saya baru dalam tahap pengumpulan informasi mengenai apa saja kebutuhan TK ini yang mendesak. Barangkali komunitas dimana saya bergabung bisa membantu.

    Saya sendiri, membaca tulisan anda, khususnya mengenai biaya transport/ojek dari rumah murid ke sekolah per hari sebesar Rp. 2000,- atau sama dengan (kurang lebih) Rp. 50.000,- per bulan, tentu berat bagi sebagian besar ortu mereka. Karena itu, lepas dari jumlah muridnya berapa orang, saya berniat menyumbangkan Rp. 150.000,- per bulan selama 12 bulan berturut-turut mulai akhir bulan September 2009 s/d akhir bulan Agustus 2010.

    Hal ini saya sampaikan, mengingat pentingnya kehadiran murid di sekolah, demi kelangsungan sekolah itu sendiri. Mohon bantuannya untuk me’manage’ bagaimana membagikan dana tersebut kepada murid.

    Karena itu info nomor rekening diharapkan bisa disampaikan. Semoga dari email yang pendek ini bisa terjalin kerja sama yang lebih baik.

    Dharmanto S. Thaib

    Reply
    1. nila dharmajani

      Dear Cimon,
      Tq bngt bantuannya. Insya Alloh kita akan inventarisasi apa saja yg dibutuhin. Mudah2an lu bisa ajak teman2 lu utk gabung. Apalg guru2 br kena musibah rumah mrk rusak bahkan ada yg rusak berat krn gempa kmrn. Kl rumah yg dipakai utk TK alhamdulillah selamat, bahkan barang2 tdk ada yg jatuh. Padahal 3 rumah yg sederetan dgn TK rusak berat.
      Oya kl dah transf tlg kabar2i, utk kemudahan pembukuan.
      Kalo ada yg mau berkunjung kesana, dgn senang hati lo…biar lihat langsung obyeknya, jd kita juga tenang.
      Thx alot.

      Reply
  2. Ratna Isnasari Post author

    Alhamdulillaaah… senengnya ada penyumbang rutin🙂 karena itu yang selalu jadi pemikirian kita semua (Nila dan teman-temannya), apalagi setelah mendengar kabar bahwa ternyata rumah kepala sekolah dan guru2 rusak akibat gempa kemarin.

    Mohon maaf, mungkin mas Dharmanto salah membaca, biaya ojek yang dimaksud adalah ongkos guru. Kebetulan murid berasal dari desa setempat, sedangkan guru2 berasal dari desa lain. Tapi tidak berarti anda membatalkan niat kan?🙂

    Untuk itu kami mengucapkan terima kasih banyak, semoga Tuhan membalas niat tulus ikhlas serta budi baik anda dengan limpahan rejeki dan rahmat Nya. Amiiinnn… Tentu kami akan berusaha mengatur nya sedemikian rupa sebaik mungkin demi kelangsungan proses belajar ini.

    Ya, saya dan Nila memang teman lama, teman baik, teman sms-an, teman curhat, teman sharing, teman jalan (kalau waktunya pas), pokoknya banyak deh kegiatan yang selalu kita lakukan bersama.
    Dan Nila titip salam dan titip bilang terima kasih (lewat sms) buat Cimon😉

    Thx
    Ratna

    NB : No. Rekening sudah di tambahkan di tulisan

    Reply
  3. Dharmanto S. Thaib

    Dear team,

    Saya hanya mau lempar ‘hints’ saja dulu. Diketahui di daerah Ciampea, Bogor banyak anak yatim piatu usia sekolah yang minat bersekolahnya sangat rendah. Sekalipun, khususnya untuk SD & SMP sudah gratis. Apakah ada rekan yang sudah bergerak di daerah tsb ? Kalau ada bisa di’share’ infonya ?

    Kalau belum, adakah ide/pemikiran awal yang sifatnya ‘one time shot’ dulu untuk menggairahkan mereka ?

    Saya tunggu komentarnya dan juga hasil inventarisasi TK Rosela.

    Thanks & Regards;
    Dharmanto S. Thaib

    Reply
    1. Ratna Isnasari Post author

      Saya dan Nila pernah “berhayal mulia”, yaitu membangun TK-TK sejenis di desa2 lain yang membutuhkan. Tapi tanpa bermaksud mengurungkan niat, kita menunda pemikiran tersebut dengan pertimbangan saat ini kita baru memulai dan samasekali belum berpengalaman.

      Ternyata memikirkan dan mengelola satu TK saja yang berjarak jauh dari tempat tinggal bukan hal yang mudah, perlu keseriusan, keyakinan, ke-ngototan, serta daya tahan yang tinggi (khususnya untuk Erry yang cukup sering berkunjung, di tengah kegiatannya yang padat). Dan yang penting lagi, butuh pemasukan dana rutin yang tidak sedikit.

      Saat ini kami baru berpikir, kalau TK Rosela sudah bisa mandiri; menjalankan kegiatannya sendiri (krn itu tujuan ahir kami), dengan bantuan dan dukungan dari teman-teman juga, kami ingin melakukan hal yang sama di desa lain. Insya Allah, amiiiinnn….

      Kalau Cimon bersedia ikut membantu, tentu itu hal yang sangat menggembirakan, dan sangat menyemangati.

      Ratna

      Reply
  4. Yulaeha Mujiati

    Assalamu’alaikum…

    Salam kenal.. saya muji di Bojong Gede, sekedar share.. alhamdulillah saya dan teman2 jg saat ini mengelola TK gratis, banyak suka duka yg dialami, dari mulai tatapan sebelah mata warga setempat,guru2 relawan yg bahkan sekedar transpotnya saja tidak terbayar dan permasalahan2 lainnya.Namun Alhamdulillah TK gratis ini masih berdiri, setia mengajarkan anak-anak dari keluarga yg kurang mampu,anak yatim dan anak-anak berkebutuhan khusus (autis,tuna wicara,ADHD). Semakin hari kami tertempa tuk semakin baik, relawan pun mulai banyak yg membantu,kami yakin semuanya itu karena telah kami serahkan/titipkan sekolah gratis ini pada Allah SWT, hingga hanya Allahlah tempat bergantung kita dan maha menggerakkan hati manusia…

    So.. tetap semangat ya mba… yakini sepenuh hati Allah SWT maha melihat, dan bersama kesulitan ada kemudahan,saling mendoakan ya mba.. agar selalu istiqomah pd prosesnya,smg Allah SWT memberikan kemudahan, keberkahan pada mba dan teman-teman yg istiqomah dalam memberikan pendidikan gratis, menunaikan hak anak akan pendidikan..

    Wasalam

    Mujiati

    Reply
    1. Ratna Isnasari Post author

      Waalaikumsalam ww..

      Senangnya ada yang mau berbagi, dan kelihatannya pengalaman saya dan teman-teman belum seberapa dibanding mbak Muji. Apalagi mengingat murid2 yang diajar begitu bervariasi bahkan ada yang handicapped.. Waahh.. hebat mbak.. Syukur Alhamdulillah masih ada orang-orang peduli seperti mbak dan teman2.

      Terima kasih sudah menyemangati kami, rasanya berharga sekali mengetahui bahwa yang kami lakukan belum seberapa. Insya Allah ya mbak, niat baik akan di lancarkan jalannya oleh Yang Maha Baik.. Amiiinn..

      Dan mudah2an apa yang kita lakukan membawa banyak manfaat.
      Mbak punya blog atau alamat situs apa lah tentang skola nya yang bisa aku liat?

      Ratna

      Reply
  5. Maya

    Dear Mbak Ratna,

    Saya Maya dari Jakarta. Saya ingin tahu lebih lanjut mengenai TK gratis ini. Saya bersedia menjadi penyumbang rutin untuk TK ini dan mungkin jika ada TK gratis lainnya seperti yang dikemukakan mbak Muji.
    Sama seperti komen sebelumnya, saya perlu tahu inventarisasi dari TK ini dan berapa jumlah yang diperlukan setiap bulannya? Anda bisa email ke icicle_skate@yahoo.com atau SMS ke 02151319517. Nanti kita bisa diskusi lebih lanjut.
    Semoga project Mulia ini selalu diberikan kelancaran oleh Allah SWT. Amin.

    Saya tunggu kabarnya. Terima kasih.

    Maya.

    Reply
    1. Ratna Isnasari Post author

      Alhamdulillah, terima kasih, responnya sangat menyenangkan hati. aamiin.. YRA. No telp sudah di kirim ke teman sy Nila yang mengurus “dapur” nya TK Rosela. Mengenai Muji, setelah menuliskan komentar di atas, ybs tidak muncul lagi jadi kontak tidak berlanjut. Ok, mbak Maya nanti Nila akan kontak begitu urusannya selesai. Thx ya semoga Tuhan mencatat dan membalas niat yang mulia.. Aamiinn..

      Reply
      1. Maya

        Ok, nanti saya tunggu kabarnya dari Nila. Kalau bisa SMS dulu ya supaya saya tahu darimana, maaf karena banyak telepon yg tidak berkepentingan jadi saya jarang angkat telepon jika tidak tahu nomornya.

        Terima kasih mbak Ratna.

        Maya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s