BHINEKA, “so what gitu loh…”

Suatu siang di Citos, aku makan siang sorangan bae. Tiba-tiba, ujug-ujug mendadak suddenly, suara musik terdengar, keras banget gile.. kaget aku. Rupanya berasal dari panggung di lobby. Hmm.. pasti musik daerah nih.. soalnya ada suara alat musik khas daerah ntah apa namanya…Berikutnya, rasa-rasanya aku mulai kenal deh sama lagu-lagunya.. Tidak salah lagi, ini pasti lagu-lagu Batak bah !! .

Selesai makan aku memang berniat untuk nonton aksi panggungnya walau cuma dari lantai atas. Semua pemain, sudah kuduga, menyelendangkan ulos.. plus topi khas, buat para lelaki Batak. Kuakui lagu-lagu batak memang terdengar enak apalagi kalau penyanyinya bersuara merdu. Hilang deh rasa lelah setelah berkeliling selama hampir 2 jam.

Tapi setelah lama menonton, kok aku malah didatangi rasa sedih… Rasanya ga tega gitu.. Musik dan lagunya enak didengar, kostum pemusiknya unik dan khas. Penyanyinya juga manis kok.. Tapi penontonnya rek, sepiiiiii bak di kuburan. Lha “jam tayangnya” aja terkesan direncanakan secara “mau-mau enggak-enggak”. Selain di hari dan jam sepi pengunjung, kursi pun cuma disediakan 5 buah.. basa basi banget, seolah memang sudah diantisipasi ga bakalan ada yang nonton, weleehh…  Padahal penyanyi nya sudah sangat berupaya agar menarik perhatian; memanggil orang yang lalu lalang supaya mau naik dan nyanyi bersamanya di panggung. Kesian deehhh……. . Coba dia nengok keatas manggil aku, pasti segera aku terjun bebas mendarat di sampingnya.. hehe..

Aku mulai berpikir tentang NKRI. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang begitu keras diperjuangkan agar jangan sampai bercerai berai. Usaha itu sangat terasa saat Timor Timur ingin melepaskan diri, dan saat di Aceh dan Papua selalu terjadi keributan yang serupa. Lalu aku juga teringat semboyan negara kita yang selalu dibanggakan “Bhineka Tunggal Ika”. Keduanya menyiratkan bagaimana keragaman itu telah menjadi satu selama ini. Beragam suku, bangsa, bahasa, budaya, tradisi telah berada didalam satu naungan dan menjadi kebanggaan kita bersama. Banyak yang khas, banyak yang unik. Itu lah Indonesia.

Lha tapi ini yang di depan mata kok malah dicuekin? Sementara untuk acara musik “inbox” di mall-mall yang diselenggarakan salah satu stasiun TV, alamaaakk.. penonton mbludaknya bukan main. Samar-samar… panggung itu, aku mulai melihatnya bak perahu kecil dan usang ditengah lautan, yang memanggil manggil meminta perhatian tapi suaranya nyaris tak terdengar. Sementara di sekelilingnya melintas ramai kapal-kapal modern nan megah, begitu menarik perhatian. Yaahh.. lalu? kapal usang itu, siapa yang mau dan bisa dengar? padahal masih banyak “perahu” model begitu di negeri tercinta ini.. Jadi harus di apain dong supaya mereka bisa tetap menarik perhatian?
Apa memang “hukum alam” yang sedang berlaku? Yang lama terlupakan, dan menjadi usang.. Yang khas dan unik pun tergantikan. Beragam menjadi seragam.

Dan mungkin saja, suatu saat nanti kita malah harus merubah semboyan menjadi : Bhineka, “so what gitu loh?” Atau mungkin menunggu lagu Batak, atau khas lainnya tiba-tiba menjadi “milik” negara tetangga? hmm… baru deh pada nyaho.. baru deh pada heboh..

Seperti kata pepatah, ketika ada dilupakan, saat hilang baru bernilai.
Entah pepatah darimana itu, tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiranku.. hehe.. tapi bener juga kan?

NN

13 November 2007,
modified 22 July 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s