Panggil aku Cina

There is an objective reality out there, but we view it through the spectacles of our beliefs, attitudes, and values. ~ David G. Myers, Social Psychology

Sebetulnya ini cerita lama dengan sedikit editing sana sini. Baru aku muat hari ini karena.. yah iseng-iseng aku buka-buka kembali file tulisanku dulu, baca baca baca.. jumpalah aku kembali dengan cerita ini. Cerita yang – mudah-mudahan – bisa menjadi sumber inspirasi.

Aku sekeluarga merayakan Tahun Baru Imlek di hari itu, Kamis tanggal 22 Januari 2004. Ndak  perlu bingung. Aku keturunan Banjarmasin – Cianjur asli, tapi sudah lama ‘nyemplung’ di wilayah pembauran🙂. Ya, suamiku adalah orang Cina.

Ada yang melegakan di hari itu waktu aku berjalan bersama anak sulungku (saat itu dia berumur 16th). Dia bilang begini : “Ih aku kesseel deh, temenku cuma satu orang yang ngucapin Selamat Taun Baru Imlek. Yang lain tuh ga percaya kalo aku Cina”. Weleehh..  cian bener sih anakku, pengen di-aku Cina tapi tak kesampaian🙂 . Lagian mana mungkin? Penampilan anakku ini memang tidak mendukung “keinginannya” sedikitpun. Dia berkulit coklat dan samasekali tidak sipit. Siapa yang percaya?? Jadi aku cuma tertawa. Ada rasa geli bercampur lega.

Jangan salah paham. Rasa lega ini bukan karena dia tidak berhasil diakui teman-temannya  sebagai orang Cina. Aku lega karena dibalik keinginannya itu ada sesuatu yang bersifat lebih dalam; lebih mendasar.  Sesuatu yang dapat menghilangkan sebuah perbedaan…..

Sudah menjadi rahasia umum kan bahwa kata “Cina” adalah kata yang sensitif. Karena dibalik kata yang sederhana ini ada banyak cerita yang bernuansa racial prejudice (prasangka rasial). Maka gak heran kalau mertuaku pun menolak penggunaan kata itu saat aku menyebutnya tanpa sengaja dalam obrolan-obrolanku dengannya. Dia lebih memilih menggunakan istilah “chinese” atau Tionghoa.  Daripada dipecat mertua lebih baik aku nurut saja.. hehe.. Dalam hati aku bertanya-tanya, padahal maksudnya kan sama saja?  tapi untuk satu kata ini aku sangat memakluminya.

Racial Prejudice

Dalam kalimat sederhana dapat dikatakan bahwa prejudice adalah sikap negatif seseorang terhadap kelompok sosial tertentu. Tapi sebelum bicara lebih jauh soal kata prejudice (baca : prejudis) ini, mungkin sebaiknya kita pahami dulu tentang arti kata “sikap” itu sendiri.

Sikap adalah sebuah kecenderungan seseorang untuk berperilaku pro atau kontra terhadap suatu obyek yang didasarkan atas penilaiannya serta perasaannya terhadap obyek tersebut. Sikap bisa saja positif (pro) atau negatif (kontra) tergantung dari penilaian seseorang terhadap obyek sikapnya. Maka oleh sebab itu prejudice tidak bisa ditawar lagi nih; adalah sikap yang negatif (kontra) terhadap kelompok sosial tertentu, yang didasarkan pada pengetahuan yang terbatas mengenai kelompok tersebut tetapi “cilaka” nya bermuatan emosional tinggi. Selain itu sikap ini juga “menolak” informasi yang masuk, bila bertentangan dengan apa yang selama ini telah diyakininya.

Lalu prejudice juga mempunyai kecenderungan penggeneralisasian atau penyamarataan. Suatu pengalaman yang buruk atau pengetahuan yang negatif seseorang mengenai orang lain/kelompok kecil orang lain akan selalu digeneralisasikan kedalam kelompok besarnya (populasinya). Dan pada akhirnya akan dinilai bahwa hal tersebut adalah merupakan ciri dari kelompok asalnya tersebut.

Kalau sikap negatif ini tertuju pada populasi suku bangsa/ras tertentu maka inilah yang dinamakan sebagai racial prejudice atau kalau di Indonesiakan biasa disebut sebagai prasangka rasial. Pada kasus ekstrim, racial prejudice dapat tampil dalam bentuk penngrusakan-pengrusakan, penganiayaan bahkan perkosaan seperti yang terjadi pada peristiwa kerusuhan di bulan Mei yang tidak mungkin terlupakan. Jadi jelas lah mengapa sebutan “Cina” pada akhirnya menjadi hal yang sensitif,  karena terkait erat dengan sikap negatif.

Betapa buruknya prejudice. Bisa dikatakan sebagai sikap yang membabi buta dan sewenang-wenang terhadap suatu kelompok tertentu. Bagaimana mungkin kita tidak mengatakan hal itu sebagai sewenang-wenang. Tanpa didasari oleh pengetahuan yang lengkap, jelas, benar dan obyektif seseorang telah melakukan penilaian (“judgement”), lalu bersikap negatif, menunjukkan rasa tidak suka bahkan membenci dan antipati, lalu ujung-ujungnya berperilaku yang agresif. Tetapi sikap ini telah hadir di tengah-tengah manusia. Dan.. meski dapat berakibat sangat buruk bukanlah hal yang mudah untuk merubahnya. Apalagi bila melihat proses panjang yang membentuk sikap tersebut.

Awal pembentukan

Sejak kecil,  yaitu ketika penalaran kita belum lagi berkembang dengan sempurna, dimana aspek emosi masih mendominasi pikiran dan perilaku kita, sikap racial prejudice ini mulai ditanamkan. Terus menerus, konsisten dan berkesinambungan sampai kita dewasa, bahkan sampai saat ini. Kata-kata cemooh, umpatan-umpatan, pembicaraan-pembicaraan memojokkan, tindakan-tindakan diskriminatif, dlsb. selalu kita dengar dan juga kita lihat. Mulai dari lingkungan keluarga, saudara, tetangga, sekolah, bahkan hampir dimanapun. Semua itu selalu di ‘ngiang-ngiang’ kan di telinga kita, di contohkan dalam bentuk perilaku plus ditambah bobot emosi kebencian. Maka akhirnya hal yang buruk ini pun terasa menjadi sesuatu yang wajar saja, diyakini kebenerannya dan dinilai tidak perlu dipertanyakan lagi.

Jadi dapat dikatakan bahwa tanpa kita sempat menyadarinya atau mempertanyakannya secara kritis, transfer sikap itu telah mengalir terus tanpa dapat dibendung lagi. Lewat ’modelling, brainwashing, doktrin2. Dapat dibayangkan bagaimana kuatnya sikap ini tertanam di dalam diri individu. Dan hal yang serupa pun diturunkan terus secara berkelanjutan sampai ke generasi anak cucu cicit dst. Maka jadilah kata Cina pun menjadi berkonotasi negatif.

Aku potong habis

Pengetahuan ku mengenai prejudice ditambah dengan pengalaman nyemplung langsung di area pembauran membuat aku banyak berpikir dan merenung. Ahirnya sampailah pada kesimpulan bahwa selama ini memang telah berlaku hal-hal yang kurang adil setidaknya di lingkungan terdekat aku sendiri (aku juga dibesarkan di keluarga asli Indonesia, remember? keluarga yang juga bersikap prejudice tapi thanks God ga terlalu ekstrim). Pertama-tama jelas lah perlakuan tidak adil terhadap kelompok etnis Cina, yang kedua perlakuan tidak adil terhadap anak-anak kita sendiri. Selama ini orangtua tidak pernah memberi kesempatan pada anak-anaknya untuk mencari tahu, menilai sendiri secara adil dan obyektif. Mereka tidak diberi kesempatan untuk mengisi “kertas kosong” nya dengan pengalaman atau pun pengetahuannya sendiri tentang etnis Cina. Bahkan kesempatan untuk mengenal pun sudah dibatasi sejak dini.

Maka akhirnya aku memutuskan untuk “memotong habis” kebiasaan memberi “bekal” tersebut. Selain dengan alasan diatas, masa sih aku “harus” menanamkan sikap prejudice terhadap anak-anak ku yang notabene di dalam tubuhnya mengalir pula darah Cina ? Nyang bener aja cuy !! Maka dimulai dari aku; berusaha untuk tidak mempengaruhi anak-anakku untuk bersikap prejudice (soalnya aku sadar banget masih termasuk produk dari generasi tersebut…). Biar lah anak-anak ku bergaul dengan saudara-saudaranya, teman-teman sekolahnya yang keturunan Cina sebagaimana adanya tanpa gw beri “bekal” apapun, kecuali yang sudah jelas kebenarannya, obyektif dan bukan hasil penggeneralisasian sembarangan.

Walhasil inilah rasa legaku. Aku mengucap Syukur Alhamdulillah.. mudah-mudahan apa yang diucapkan anak ku itu merupakan manifestasi dari perkembangan sikapnya yang adil, netral dan obyektif terhadap etnis Cina. Dan Insya Allah hal tersebut mengindikasikan bahwa sikap prejudice terhadap etnis tersebut mulai hilang, meskipun mungkin baru dimulai dari keluarga ku. Mudah-mudahan selanjutnya sikap inilah yang akan diturunkan ke anak cucu ku.

diantara sepupu

diantara sepupunya, pasti anda tahu anakku yg mana?😉

Biarlah kalimat “panggil aku Cina” menjadi kalimat yang netral tanpa ada kandungan prasangka buruk  didalamnya,  sehingga tidak perlu ada orang yang takut mengakui asal muasal bangsanya sendiri,  seperti tergambar dalam judul sinetron  “jangan panggil aku Cina”.

NN

3 thoughts on “Panggil aku Cina

  1. Someone

    oh 1 hal yang perlu kutambahi:
    menurut sepengetahuanku,
    biasanya orang yang campuran keturunan chinese & pribumi, tidak bisa diterima oleh kedua pihak.

    Reply
  2. Ratna Isnasari Post author

    kayaknya anda benar nih.. mungkin anak2ku yang wajahnya keliatan ‘cina’ nya mengalami penolakan tersebut.. tp mudah2an tidak sampai menyusahkan hidupnya..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s