Satu jam di Benteng Rotterdam..

Satu jam berkeliling di Benteng Rotterdam, atau Benteng Makasar, sudah cukup untuk membuat sejarah Pangeran Diponegoro menjadi sedikit berbeda (tapi besar artinya). Bahkan perbedaan itu terjadi sejak awal waktu aku memasuki gerbang benteng peninggalan sejarah keperkasaan kerajaan Gowa yang berjaya pada abad XVII itu.

)

peninggalan Pangeran, kecualit tangga🙂

Seorang pemandu (guide) tanpa diminta langsung mendampingi aku dan 2 orang teman saat kami baru memasuki pintu gerbang. Dia menuntun kami ke arah sebuah ruangan pengap tanpa jendela, berpintukan besi kokoh berjeruji bak pintu penjara. Eh, ternyata memang beneran penjara🙂, dan disinilah Pangeran Diponegoro (PD) dipenjarakan di akhir masa hidupnya, setelah sebelumnya berpindah-pindah tempat pengasingan.

Mulailah sang pemandu bercerita panjang lebar tentang PD. Kadang aku mendengarkan tapi kadang aku keasikan memperhatikan dipan, meja kerja dan sebuah kitab dengan tulisan arab gundul (atau naskah otobiografi Babad Dipanegara dengan aksara pegon?) yang kesemuanya adalah replika dari aslinya. Dan aku pun keasikan memotret. Tapi saat sang pemandu berkata dengan yakin : “pokoknya pada intinya, segala

ruang pengasingan terakhir

tempat pengasingan terakhir

macam peperangan dapat dihentikan dengan uang”, spontan aku menoleh dan bertanya, “maksudnya?”,

“Pangeran Diponegoro menerima tawaran Belanda untuk menyerukan penghentian peperangan setelah ditawari tunjangan sejumlah besar gulden setiap bulannya untuk menghidupi dia dan keluarganya”. Begitu katanya dengan mantap.

Alamaakk.. benarkah begitu? Seorang pahlawan yang selama ini diagung-agungkan, dan dibanggakan kepahlawanannya, tiba-tiba mendadak sontak bersedia menghentikan pemberontakan demi sebuah sogokan? Waduuh rasanya gak klop banget dengan apa yang ada di memoriku selama ini. Tapi kok bapake pede banget, ekspresi wajahnya itu lho.. tenang tapi serius.. mantap banaar.. Aku bergeming sejenak, setidaknya mulai bertanya-tanya dalam hati.. apa iya ya? sambil berjalan terus mengikuti arah kemanapun dia berjalan. Aku jadi bertanya darimana dia tahu cerita sejarah benteng Rotterdam dan PD ini? Katanya dari buku karangan seorang Belanda yang meneliti sejarah Benteng dan PD ini, sayang saat itu aku tidak berusaha mengingat-ngingat nama yang

how beautiful...

mempesona

disebutnya. Maklum nama orang Belanda. Karena tidak familiar jadi sulit bagiku untuk mengingatnya, apalagi di saat pandangan dan pikiranku juga menyapu gedung-gedung jadul yang indah disekeliling.

Ah aya aya wae (ada-ada saja) si bapak. Tapi celotehannya itu bisa jadi berbahaya bila disimak oleh para wisatawan, apalagi

ikut nampang bersama gedung yang cantik
how beautiful..

oleh anak-anak; rombongan murid sekolah misalnya. Aku jadi penasaran untuk membaca lebih jauh tentang diri pribadi PD. Maklum selama ini aku cuma ingat nama dan tahun perangnya saja Pangeran Diponegoro (th 1825-1830), itu pun aku sudah merasa bangga dan kagum pada ingatanku sendiri hehe..

Siapakah Pangeran Diponegoro?

Dari sekian banyak situs tentang PD yang aku buka, aku coba memilih-milih bacaan yang menceritakan sisi pribadinya. Ternyata tidak mudah untuk mengetahui sisi pribadi dari seseorang yang telah meninggal ratusan tahun lalu ya? ya iya laah… tapi lumayan lah masih ada sedikit gambaran yang bisa diketahui.

Singkat cerita, konon (entah ini suatu kebetulan atau mungkin suatu keistimewaan) Pangeran Diponegoro lahir dan wafat di saat yang sama yaitu saat fajar menyingsing, tetapi di tempat yang sungguh kontras berbeda. Lahir Jumat 11 November 1785 di lingkungan keraton Yogyakarta, wafat Senin 8 Januari 1855 di bilik pengasingannya di Benteng Rotterdam Makasar. Jadi dari 70 tahun usianya, 25 tahun beliau berada di penjara dan pengasingan.

Diasuh dan dibesarkan oleh sang nenek buyut (Ratu Ageng Tegalrejo, permaisuri dari HB I) sedikit banyak memberi pengaruh kuat dalam hal ketertarikannya pada ilmu keislaman, dan sifat kerakyatannya. Disinilah, di lingkungan desa Tegalrejo ia belajar mengaji dan nilai-nilai Islam, dan menjadi lebih dekat dengan rakyat.

PD sering disebut-sebut sebagai pribadi yang sederhana, jujur, rendah hati dan berhati bersih. Ia kurang tertarik dengan kehidupan mewah istana yang sering mengadakan acara ala Barat dan mabuk-mabukan. Meski ia adalah putra Hamengkubuwono III dengan Raden Ayu Mengkarawati tetapi ia menolak tawaran ayahnya untuk dijadikan sultan. Ada 2 versi alasan penolakannya, karena rendah hati dan menyadari bahwa ibunya bukan seorang permaisuri melainkan hanya selir, dan alasan lainnya adalah karena ia menilai kondisi keraton sudah tidak ideal lagi. Maka ia pun menyarankan agar mengangkat adiknya saja, pangeran Djarot yang waktu itu masih berumur 3 tahun. Sementara ia bersedia menjadi pendamping saja.

Ia tidak menyukai Danurejo IV seorang patih yang pro Belanda dan bergaya hidup Belanda, dan karena sultan masih muda maka akhirnya sang patihlah yang lebih banyak memegang kendali keraton. Bahkan menurut salah satu sumber, musuh utama PD sebetulnya bukan Belanda melainkan Danurejo IV yang dikenal sebagai penghianat bangsanya sendiri karena lebih mementingkan kekayaan dan tahta. Menurut sumber lain ada 2 faktor penyebab pecahnya perang Diponegoro yaitu krisis agraria yang melanda Jawa Tengah tahun 1823- 1825 (terkait dengan kerjasama Danurejo dan Belanda) dan berbagai tindakan yang tak pantas yang ditunjukkan para petinggi Belanda di Yogyakarta.

Pribadi yang menarik dan hati yang bersih terlihat di tengah-tengah cerita peperangannya. Saat tertembak di kaki dan dada dalam pertempurannya melawan pasukan Surakarta dan Letnan Habert, ia meminta agar pasukan Sentot Alibasyah mundur meskipun hampir berhasil merebut kraton Surakarta. Katanya tujuan perang adalah melawan Belanda bukan bertempur sesama warga. Dan hati yang bersih pula yang menyebabkan ia percaya saja saat dijebak dan ditangkap Belanda yang mengundangnya untuk melakukan perundingan menyusul tertangkapnya Sentot Alibasyah dan Kyai Mojo.

Di paska berakhirnya Perang Jawa, PD menyatakan hanya ingin diakui sebagai pemimpin agama tertinggi di seluruh Jawa (ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya). Bahkan setelah menjadi tahanan Belanda, ia masih menyisihkan uang tunjangan pemberian belanda untuk pergi ke Mekah, tapi sampai ahir hayatnya tidak pernah dikabulkan.

Jadi, dengan pribadi yang seperti demikian itu, mungkinkah PD menghentikan peperangan demi sebuah imbalan besar? Ah, aya-aya wae.. Kini aku mantap untuk mengabaikan celotehan bapa-e pemandu, dan berharap semoga saja ada proses atau persyaratan dan ujian khusus pengetahuan sejarah bagi para pemandu yang beredar di tempat-tempat peninggalan sejarah manapun di seluruh Indonesia sehingga informasi yang disampaikan terkontrol dan sesuai dengan kebenaran sejarah. Apalagi dengan tarif 50 ribu rupiah pula, padahal siapa juga yang minta😦

Benteng yang tebal dan kokoh

p10109842

gedung-gedung dilihat dari atas

Benteng Rotterdam sejak awal dibangun oleh raja Gowa X pada tahun 1545. Dari 17 benteng peninggalannya di kota Makasar, hanya benteng ini yang tidak dihancurkan oleh Belanda.

Tidak seperti namanya yang seram dan menggambarkan sebuah bekas peperangan, ternyata dibalik benteng itu telah dibangun sejumlah bangunan cantik jaman baheula oleh Belanda. Selain bangunan yang berdiri kokoh ditengah-tengah rerumputan (foto : how beautiful.. sekarang dijadikan gereja), di sekelilingpun berdiri bangunan yang tak kalah cantiknya. Bukan cuma gedungnya yang terlihat terawat bahkan rumput pun terlihat segar dan hijau.

Tapi… di bagian belakang mulai deh keliatan yang kotor-kotor dan kurang terawat. Sebuah bangunan penjara yang lebih pengap dari penjara PD kini dijadikan gudang. Katanya disinilah sejumlah orang Ambon disiksa karena melawan Belanda. Kami hanya bisa mengintip dari jendela, meja dan kursi bergelatakan tak menentu. Satu bukti yang

(

bergaya di depan ruang penyiksaan😦

menunjukkan bahwa modernisasi telah masuk ke gudang itu, ada bangkai CPU dan monitor di atas meja🙂 Lalu menambah seram suasana, pak pemandu menambahkan bahwa karena terkenal angker ruang ini pernah dipakai untuk shooting acara uji nyali dan uka-uka. Hmm… seraaamm…

Dari atas kita lebih lapang melihat pemandangan gedung jadul di dalam lingkungan benteng ataupun gedung diluarnya; perkantoran, rumah sedikit kumuh, ruko, bagian atas kapal laut yang bersandar, dll. Dan.. tidak kalah penting, setumpuk sampah yang terselip di tanah kosong diantara gedung-gedung di lingkungan dalam Benteng😦 Sungguh amat sangat merusak pemandangan, menyesal aku tidak mengabadikannya. Sang pemandu pun berdalih, itu bukti sejarah yang menunjukkan bahwa sekarang orang tidak peduli dengan kebersihan dibanding jaman dulu. Halaahh…😦

benteng yang tebal dan kokoh

benteng yang tebal dan kokoh

bukan hanya tersusun dari batu, tapi juga batu karang.  Pantas
dari 17 benteng peninggalan raja Gowa, cuma benteng ini yang tidak dihancurkan Belanda, pasti karena terlalu tebal dan kokoh. Tapi mungkin juga karena lokasi benteng yang strategis, dipinggir pantai, atau, mungkin juga karena alasan lain hehe.. mulai sok tahu deh🙂 Saking tebalnya

bukan hanya tersusun dari batu, tapi juga batu karang

benteng terbuat dari batu-batuan, bahkan batu karang

benteng ini bahkan kita bisa berjalan dengan lapang aking tebalnya benteng ini bahkan kita bisa berjalan dengan lapang diatasnya. Bukan terbuat dari bata merah atau batako lho, tapi ada batu-batu hitam dan batu karang didalamnya.

Senangnya hati bisa melihat benteng peninggalan jaman baheula. Gak percuma jauh-jauh ‘ngasong’ ke Makasar😉

Akhirnya thanks to rekan-rekan dari Assessment Centre Jasdik PLN (pak Sudjatmiko cs. dan di PLN Makasar (mbak Andro cs.) yang sudah memberi kesempatan padaku dan teman-teman untuk berkeliling di kota Makasar. Semoga masih ada kesempatan lain di waktu dan tempat yang berbeda.. hehe..

nampang sebelum cari oleh-oleh - PLN Makasar

nampang sebelum nyari oleh-oleh - PLN Makasar

6 thoughts on “Satu jam di Benteng Rotterdam..

  1. Rusli Amin

    Dear Ratnaisnasari,
    I have read your article entitled Satu Jam Di Fort Rotterdam. It is very interesting to read it. Nevertheless your description about the history of Diponegoro is not complete however it tells that you are interesting at history subject.

    I would like to advise you if you would like to get the details story of Prince Diponegoro, please read the historical book about Diponegoro written by Peter Carey, historian from Oxford University, England. The title of the book is ” The Proffecy Of Dipanegara “. The book contains of 800 pages and I think it is very complete one especially telling about the war of Diapnegara.

    I hope the book will meet your satisfaction on the history of Dipanegara.

    I think, that is all I can tell you today. Have a good time!

    Yours sincerely,

    Rusli Amin

    You can call me at my cellphone: 081241658880.

    Reply
  2. Ratna Isnasari Post author

    Mas Rusli Amin yang baik hati,

    Pertama-tama, my English cuma nge pas buat baca, dan mepet kalau buat nulis🙂 jadi mohon maaf saya menulis dengan bhs indo.

    Saya sempat membaca referensi buku Sejarah PD nya Peter Carey di wordpress (http://alumnisejarahunand.wordpress.com/2008/10/28/biografi-lengkap-pangeran-diponegoro/) dan memang tertarik untuk membaca bukunya. Sayangnya spt sy bilang, my English nge pas buat baca, jadi bakalan lama banget bacanya, apalagi 800 halaman alamaakk😦 sy tunggu terjemahannya aja deh, kalo ngga salah sedang diterjemahkan ya? mudah2an bahasa terjemahannya bagus dan enak untuk dibaca, sehingga saya mendapat gambaran yang lebih lengkap tentang PD.

    Terima kasih banyak atas perhatian, info n no Hpnya.
    salam,

    RI

    Reply
  3. Sudradiningrat

    Sayang sekali anda yakin Kyai Mojo yang baik dan Danurejo IV yang jahat. Sebaiknya anda membaca babad Diponegoro lebih terang lagi.Pngran Diponegoro muak sekali pada kyai Mojo yang pengkhianat itu. trims

    Reply
    1. Ratna Isnasari Post author

      wah terima kasih atas masukannya pak jagad surodipo🙂.. demi kebenaran sejarah saya akan baca kembali. Cerita ini memang saya rangkum dari hasil ‘searching internet’.

      Salam
      NN

      Reply
  4. edi

    Seharusnya tidak mengkritik, tapi saling melengkapi. salut buat sdri. Ratna Isnasari…
    Apapun tentang sang Pangeran, tapi kita ambil hikmah dari perjuangannya…yang positif.
    Kita tidak bisa membaca isi hati seseorang, apalagi menceritakan secara detail dan akurat terhadap seorang tokoh yang sudah tidak ada lagi. Bahkan, era reformasi yang kita jadi saksi sejarah, yang baru 10 tahun berjalan ini, kita tidak tahu apa sebenarnya tujuan Pak Amien Rais berdemonstrasi, Kenapa ada perang Aceh, dll. Apakah ambisi semata, ataukah murni perjuangan.

    Catatan sejarah bisa diselewengkan, tergantung siapa dan apa maksud pembuatan cuplikannya..G30S PKI kontroversi, Serangan umum 1 Maret kontroversi, hasil PEMILU kontroversi, karena si penulis mewawancarai beragam saksi sejarah yang berbeda-beda karakter.
    Apapaun tentang Diponegoro, saya salut atas perjuangannya……

    Regards

    Reply
    1. Ratna Isnasari Post author

      betul (bpk Edy?).. sebaiknya memang hati dan pikiran kita tetap terbuka membaca apapun karangan siapapun, semoga lah apa yang dituangkan para penulisnya adalah sebuah kejujuran semata, dan akhirnya kita mendapat kesimpulan dan manfaat yang terbaik dari sumber yang tidak terbatas. Amin, dan Thanks.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s