Menulis Tanpa Berpikir, Mungkinkah?

Hmm.. kenapa ga dicoba aja? coba dong… pasti isi tulisannya ga jelas bin kacau.  Orang normal, kalau nulis ya musti mikir, biar kata isinya cuma ‘begitu-begitu doang..’ Kalau ada yang bisa menulis tanpa berpikir, waahh… pasti dia seorang yang ga normal🙂 Lalu, kenapa juga aku membuat judul tulisan yang  (seolah) gak mungkin itu? Masalahnya, seorang yang aku sebut ”ga normal” itu ternyata ada, dan aku sangat mengenalnya. Maka  sebelum aku bercerita lebih jauh tentang ke  ‘tidak normal’annya, ‘terpaksa’ aku klarifikasi dulu arti dari  ‘ga normal’ disini takut orangnya tersungging. Tidak normal yang aku maksud adalah ”berbeda dari pada umumnya”, dan, tidak ber konotasi negatif lho..

Jelas dia berbeda. Kalau aku menulis membutuhkan waktu untuk berpikir tentang isi dan susunan kalimat (maka aku normal kan?😉 ), dia tidak. Tulisan itu akan mengalir begitu saja lewat jari-jarinya dengan segera sesaat setelah dia berpikir “ingin menulis tentang sesuatu”. Tentang apapun. Seni? Arsitektur? Agama? Bahkan membuat proposal.. weleehh… Pokoknya sebut aja deh satu, maka cring cring cring.. jadilah tulisan tentang itu. Waahh… ga normal, eh canggih banget ya?

Tapi jangan coba-coba mengajak dia berdiskusi tentang tulisannya sendiri, jelas dia ga paham. Laah wong menulisnya aja tanpa berpikir kok, artinya saat menulis dia tidak sadar. Orang sadar ya berpikir, saat dia tidak berpikir maka dia tidak sadar.. begitu kata seorang filsuf, yang aku lupa namanya. Maka selesai menulis, dia sendiri akan ter bingung-bingung sekaligus ter kagum-kagum dengan tulisannya sendiri. Kok bisa ya?  Tapi apa boleh buat, mau protes sama siapa? lagian jadi pinter kok protes..hehe..  Jadi terima jadi aja deh ga usah banyak nanya.

Dan, jangan membayangkan saat hal itu terjadi ’matanya tertutup’, atau bak orang ”kesurupan”, atau mulutnya menyembur-nyembur dan komat kamit.. hehe.. Enggak lah. Saat menulis, ya normal-normal aja seperti orang pada umumnya sedang menulis. Tepatnya, dia mengetik di laptopnya. Diajak bicara pun  masih nyaut kok. Di taburi melati?  mawar? atau, bawang putih? merica? yang katanya bahan pengusir setan, pasti dia bingung. Di siram air? Ya jelas marah lah..🙂

Jadi proses berpikirnya tidak dia sadari karena mengalir begitu saja. Tapi dia sangat sadar akan apa yang terjadi dan yang sedang dilakukannya. Nah jadi bingung lagi kan tentang arti dari kesadaran? tapi sayangnya bukan masalah sadar menyadar yang sedang dibicarakan disini. Jadi masalah itu gak perlu dibahas lebih lanjut, karena aku juga belum terlalu paham. Kita sebut saja dia tiga perempat sadar😉

Lalu, sebetulnya siapa yang punya “ulah”? Sementara ini tidak pernah ada yang bisa menjawabnya. Bahkan dia sendiri pun tidak paham. Kalau menurut ke ‘sok-tahu’an aku, dalam bayanganku sih saat dia menulis ada ‘seseorang’ berjanggut putih, berjubah, berdiri disebelahnya sambil mendikte  tanpa suara, tetapi hubungan transmisi langsung dari otak ke otak.. hehe..  Kalau pun bukan ‘seseorang’, mestilah ada sebuah kekuatan, atau energi, atau apa lah itu yang membuat syaraf berpikir di otaknya bekerja dengan alur tertentu. Mungkin “ybs” itu ingin urun rembug pendapat juga..😉

Kalau penasaran, silahkan buka saja blognya lewat blog aku. Klik : Sister’s deh. Yes! Actually she is my elder sister’s blog.. 🙂

NN

2 thoughts on “Menulis Tanpa Berpikir, Mungkinkah?

  1. JP

    Hebring pisan nya’ si Teteh…………?!!

    Gak pake mikir aja tulisannya sdh canggih gitu apalagi kalau pakai mikir…. wuih teu kabayang !!

    Pantesan adi na oge jago nulis kieu, sigana emang dari pabriknya nya’ teh ?? teuing bakat ti pabrikna teuing ti supplier na… hehehe

    Eeh.. kalau gak pakai mikir, sama gak pake otak beda nya’ teh ?? trus beda juga sama gak pake perasaan nya’ ??

    Reply
  2. JP

    Hebring pisan nya’ si Teteh…………?!!

    Gak pake mikir aja tulisannya sdh canggih gitu apalagi kalau pakai mikir…. wuih teu kabayang !!

    Pantesan adi na oge jago nulis kieu, sigana emang dari pabriknya nya’ teh ?? teuing bakat ti pabrikna teuing ti supplier na… hehehe

    Eeh.. kalau gak pakai mikir, sama gak pake otak beda nya’ teh ?? trus beda juga sama gak pake perasaan nya’ ??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s