“Out door” (2) – Karantina Finalis Miss Indo. 2008

Kunjungan ke kebun kosmetik, Kampung Jamu

Awalnya direncanakan kunjungan kegiatan sosial ke panti asuhan, tetapi entah mengapa rencana itu batal. Kalau tidak salah para perancang program tidak berhasil mendapat konfirmasi dari 3 panti (???) aku tidak tahu pasti.

Akhirnya rombongan meninggalkan “kandang” sampai ke jarak yang agak-agak jauh keluar kota,  daerah

Cikarang. Kita akan mengunjungi sebuah kebun yang luas yang didalamnya ada banyak pepohonan sebagai bahan dasar kosmetiknya Sari Ayu, katanya.   Walau hawa tidak dingin, tetapi menatapi pemandangan terbuka yang serba hijau dengan danau kecil-kecilan di tengah-tengah  sudah cukup dapat menyegarkan mata dan hati orang Jakarta saat menikmatinya😉

Disuguhi berbagai makanan khas tradisional yang luar biasa wuenak dan nikmat plus teh es campur

)

menyejukkan mata dan hati

serehnya, hmm…  membuat istirahat di bangunan terbuka setengah kayu ini menjadi sangat mengasyikkan sebelum kita di ajak berkeliling dan mengantar para finalis menanam pohon demi penghijauan.

Ada sedikit ‘spleteran’ saat kita mulai memasuki area rumput dan perkebunan. Memasuki area macam ini tentu saja yang paling pas dan nyaman adalah menggunakan sepatu olah raga, atau sepatu tak ber-hak.  Meski sudah diumumkan di hotel agar para finalis membawa dan memakai sepatu olah raga hadiah dari sponsor, tapi nyatanya ada saja yang ‘lupa’ atau ‘tidak mendengar’ pengumuman itu. Meski dibawa tetapi saat turun dari bis sepatu tidak ditukar; tetap bersepatu hak tinggi sementara sang sepatu olahraga ditinggal di bis. Jadilah rombongan sedikit tersendat dengan urusan  ini.  Addaa aja cerita yang bikin stress, sementara situasi semakin hari memang makin terasa “stressfull”,  khususnya di setiap detik-detik menjelang  memasuki acara atau kegiatan yang diprogramkan. Bingung…

“Global Warming”

Tentang pemanasan global

Tentang pemanasan global

Keluar dari ‘gedung’ satu, kita memasuki ‘gedung’ kayu terbuka lainnya. Disitu Sari Ayu mempresentasikan berbagai hal terkait ‘global warming’; pemanasan global yang sudah seharusnya menjadi pengetahuan dan perhatian para finalis dan  seluruh umat manusia di muka bumi ini tentu saja. Kalau finalis tidak paham, apa kata dunia saat salah satu dari mereka maju ke ajang Miss World.

Bumi yang mulai “diselimuti” oleh berbagai gas buang hasil kemajuan jaman dan kreativitas manusia menyebabkan panas matahari tidak leluasa berpendar dan memantul ke berbagai arah. Panas matahari itu ‘terperangkap’ di bumi sehingga membuat suhu bumi kian hari kian tinggi dan perlahan tapi pasti menimbulkan berbagai dampak buruk bagi para penghuninya. Bumi jadi beku,  akibat dari berbagai proses alam dan senyawa kimiawi dari perubahan suhu yang terjadi, itu lah kondisi paling ekstrim sebagai akibat dari “global warming”. Konon kondisi ini sudah pernah terjadi puluhan ribu tahun silam.

Maka oleh karena itu acara selanjutnya adalah mempersilahkan ke 33 finalis menanam pohonnya masing-masing (sudah disediakan oleh nyang punya rumah) secara serentak bersamaan dengan aba-aba..  supaya pohonnya gede berbarengan kali ye? dan bumi pun jadi mendingan karena men-dingin hehe.. Siapa dulu yang nanem?😉

Wah, hebat berani pegang cacing

ikut serta men-dingin-kan bumi

ikut serta men-dingin-kan bumi

Wah si cantik berani pegang cacing, hebat..  Sejenak “dunia sekitar” sedikit heboh oleh  cerita cacing tanah🙂 Lalu para pemotret pun langsung beraksi memotret cacing yang dipegang finalis, eh memotret finalis yang memegang cacing. Padahal finalis juga manusia, ada yang berani pegang cacing ada yang enggak. Tapi berhubung yang namanya miss-miss an, putri-putrian, ratu-ratuan identik dengan  kecantikan, keanggunan dan ‘ke-jaim-an’ (jaim = jaga image) maka jadilah itu suatu peristiwa yang cukup menakjubkan… hehe… lucu nya.

Kunjungan lain

Bagiku kunjungan lainnya tidak terlalu  mengesankan, nyangkut di memory tapi tidak sampai di hati🙂 tapi aku bukan finalis lho., jangan salah  kira hehe… bagi  mereka pasti lah semua kegiatan mengesankan.   Selain kebun, kunjungan ke pabrik kosmetik pun tak terlewatkan. Di pabriknya Sari Ayu kita bisa melihat bagaimana proses pembuatan kosmetik itu terjadi bahkan rombongan dipersilahkan membuat lipstick dengan warna campuran suka-suka sendiri sesuai selera.

Dengan berkebaya modern yang rada-rada “glamourous” para finalis mengunjungi Kantor Gubernur yang

di gedung Gubernur DKI Jakarta

di gedung Gubernur DKI Jakarta

berada di Jalan Merdeka depan lapangan Monas itu.  Mungkin karena aku tidak dapat ikut mendengarkan  bang Fauzi Bowo bercerita tentang kota Jakarta dan permasalahannya (karena ruang terbatas) maka kesan kunjungan menjadi datar saja kecuali saat ‘dinner time’😉

Sebetulnya tidak diniatkan untuk berkebaya glamour berkerlap kerlip, tetapi berhubung kebaya itu sudah terlanjur dipersiapkan para finalis dengan berbagai pengorbanan maka demi rasa kasihan akhirnya diputuskan kebaya digunakan malam itu.

Hari-hari sebelumnya hampir se-siangan penuh adalah kunjungan ke stasiun radio dan kantor redaksi Koran Sindo dan berbagai majalah,  termasuk kantor redaksi tabloid Wanita Indonesia di hari yang berbeda. Kunjungan yang serba kilat karena dikejar waktu dan keterbatasan tempat, tentu tak meninggalkan kesan, bagiku lho bukan bagi finalis. Cuma di kantor Koran Sindo ada sesuatu yang aku ingat betul, yaitu saat para finalis tiba-tiba “ditodong” oleh pertanyaan “siapa yang mau bertanya sesuatu, apapun tentang koran Sindo”. Nah lho.. bingung deh.

Aku memahami kebingungan finalis. Biasanya sebelum mereka ingin tahu lebih banyak atau bertanya sesuatu sedikitnya ada gambaran yang diceritakan terlebih dahulu (ada presentasi) tentang sesuatu tapi kali ini tidak. Duduk berhadapan dengan sejumlah banyak orang jajaran redaksional koran tersebut dan wartawan, tentu sudah cukup membuat grogi, apalagi ujug-ujug di minta bertanya🙂 maka hening lah seketika. Tak berlangsung terlalu lama, situasi dicairkan kembali oleh mereka lewat pertanyaan-pertanyaan santai dan canda. Selanjutnya adalah acara wawancara dengan finalis satu persatu.

Hari-hari yang melelahkan tetapi penuh dengan cerita dan pengalaman baru. Cuma saja selama bepergian , bahkan selama karantina aku dan bunda-bunda lain mulai ngidam, ingin makan mie bakso.. Sudah terbayang-bayang di pelupuk mata dan pelupuk rasa, aroma dan rasa pedasnya.. yummii.. tapi selama itu juga ngidam tak kesampaian  tukang bakso yang diharapkan tak kunjung lewat😦

(masih ada lanjutannya)

NN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s