“Uji Nyali” mengajar di Sekolah Master (2)

Pasti ada rasa was-was saat diharuskan mengajar anak terminal di kelas terbuka pula. ’Beruntung’ 5 siswa yang harus aku amati kebagian kelas 3 SD di ruang yang separuh tertutup, tapiii… tepat disebelahnya, yaitu di teras, kelas 4 juga belajar, lalu di depannya lagi kelas 5 dan 6 juga belajar tanpa sekat. Kebayang ga sih riuh rendahnya?

)

kelas transparan🙂

Secara berkelompok siswa SF (Sampoerna Foundation) harus unjuk kebolehan mengajar di kelas-kelas itu. Nah, silahkan deh adik-adik calon penerima beasiswa mengajar dengan ’tenang dan damai’.. hehe..

Aku ikut masuk ke ruang kelas 3 SD dengan bangunan separuh papan separuh jendela kawat itu🙂. Tepat dibalik kawat adalah kelas 4 SD bersiap-siap belajar juga. Aku sendiri jadi bingung suara siapa yang harus aku dengarkan. Lha semua suara kedengeran kok. Suara ’guru-guru’ (siswa SF) suara murid-murid (kelas 3, 4, 5 dan 6), bahkan suara ibu-ibu yang menunggui anak-anak mereka, dan… suara orang jajan di warung 🙂.

Bayangkaan… betapa riuhnya sekolah ini bukan? Tapi justru  disitulah letak seni dan tantangannya. Di tengah kondisi/situasi belajar yang kalang kabut seperti ini ‘guru SF’ dan murid sebetulnya sama-sama berjuang. Sang guru sedang berjuang untuk dapat ’meng-handle’ kelas demi sebuah penilaian dan pengalaman, sementara sang murid berjuang agar tetap bisa mendapatkan ’ilmu’ ditengah keramaian.

Kalau pada awalnya mereka masih bisa duduk ‘agak’ manis di bangku lesehannya masing-masing. Tak lama  kemudian🙂. Yang dibelakang mulai maju ke depan, yang itu lari-lari, yang depan pindah kebelakang, yang di belakang keluar masuk pintu keluar. Belum lagi, alamaaakkk… ada yang naik-naik ke atas meja 🙂.  Waduh.. beruntung aku hanya berperan sebagai pengamat bukan calon penerima beasiswa Jadi ga perlu berjuang keras-keras amat😉. Tapi ‘surprise’ juga meskipun tak kunjung teratur dan sedikit porak poranda, tapi menurut pengamatanku para calon penerima beasiswa itu cukup sabar dan cukup berhasil menyampaikan materi. Meski perlu usaha cukup keras, dan dengan pembimbingan individual, satu persatu anak-anak itu dapat menyelesaikan soal matematika yang diberikan. Salut🙂


”The Man behind the Scene”

Mengamati sekolah ini, mendengarkan cerita tentangnya, pasti akan timbul pertanyaan.
Siapakah pemilik sekolah ini? Awalnya aku mengira ini adalah milik mesjid. Tapi ternyata aku salah duga, mesjid itu juga dibangun oleh seseorang secara pribadi. Sekolah ini juga didirikan atas inisiatif dan kehendak seorang penduduk setempat yang bernama pak Nurochim.

)

"the man" dan bos yang big🙂

Aku selalu merasa kagum pada orang-orang seperti ini. Menurutku mereka adalah orang-orang yang berani berkomitmen karena disini tidak ada keuntungan apalagi pamrih. Pada saat ia memutuskan untuk membuat sekolah gratis untuk orang terminal bukankah itu berarti ia juga memutuskan untuk bertanggung jawab atas kelangsungan ‘hidup’ sekolah itu? yang berarti dia harus memikirkan tempat, guru, fasilitas, proses ajar mengajar dan lain-lain yang pasti membutuhkan pemikiran, usaha, biaya dan tenaga yang bukan asal-asalan, ataupun semau-maunya saja.

Setelah kenal orangnya, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa dan bagaimana? Kenapa mau pusing? Kenapa orang terminal? trus gimana awalnya? Karena bagiku ‘rada-rada aneh’ kalau tiba-tiba seseorang punya ide membangun sekolah gratis untuk orang-orang terminal yang punya kesan sangar, garang, liar. Emang pada mau disuruh sekolah?

Berawal dari Warteg

Keluar dari sekolah untuk membangun sekolah. Aneh dan kontradiktif bukan? Tapi memang begitu adanya. Pak Nurochim akhirnya memutuskan untuk keluar dari kuliahnya karena berpikir sekolah itu kebanyakan teori, mungkin akhirnya dia bosan. Sebagai ’keturunan’ pedagang disekitar tanah abang, maka itulah kerja sambilannya, sampai pada suatu saat dia memutuskan untuk buka warteg yang, salah satunya,  berada di dekat terminal depok.

Misi pendidikan dan dakwah pun diselinapkan dibalik usaha warteg 🙂. Maka beliau pun sengaja menyediakan kamar mandi bagi para

kelas sekaligus tempat menginap para terminalis

kelas sekaligus tempat menginap para terminalis

pengunjung wartegnya yang kebanyakan orang-orang terminal itu. Tujuannya antara lain agar wartegnya dijadikan terminal oleh para terminalis itu, bukankah mereka membutuhkan tempat untuk bersantai dan mandi? Maka jadilah wartegnya ’terminal’ bagi para terminalis. Lalu langkah selanjutnya iapun mulai mengeluarkan jurus-jurus dakwahnya, dan mesjidnya pun terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin beribadah.

Dari seringnya berinteraksi dengan para terminalis, rupanya pak Nurochim dapat menangkap hal mendasar yang mereka butuhkan, yaitu sekolah dan pendidikan moral. Maka akhirnya berdirilah ’sekolah’ yang awalnya beroperasi di mesjidnya sendiri untuk orang-orang yang ingin sekolah dan mau menjadi orang soleh.

Dan, konon..  terminal Depok pun menjadi aman. Katanya sih, sebut saja sekolah Master maka anda pun aman berada disana. (Baca juga : Sekolah Master Gratis di hal. sebelumnya)

Nis, thanks (lagi) buat foto2nya ya.. Gpp kan ada fotonya bos yang big?

"container" di skola Master - jadi keren ya?

Saat aku mendapat kesempatan yang sama di th 2009, ternyata sudah banyak pengembangan yang terjadi.  Selain kelas transparan sudah tertutup, ada  “bangunan” kelas yang baru berasal dari sumbangan berupa kontainer..🙂

NN

9 thoughts on ““Uji Nyali” mengajar di Sekolah Master (2)

  1. beta

    Kayaknya seru juga ya Na?? Tapi perlu liat-liat dulu kalee, qra2 bisa gak gw “berada” dsitu, mengingat gampang distracted….

    Reply
  2. Pingback: Sekolah Master Gratis (1) « Tomorrow!

    1. Ratna Isnasari Post author

      wah maaf mas Bud, dulu aku punya tp trus HP ku hilang maka hilang juga lah no telp pak Nur..

      Reply
  3. Ratna Isnasari Post author

    Ella, setahu sy skola itu sangat senang kalau ada yang bersedia mengajar. Jd langsung aja kesana ketemu pak Nurrochim, pasti akan diterima dengan senang hati. Tempatnya dekat terminal Depok, kl sudah smp disana pasti org terminal tahu dan bisa nunjukkin tempatnya. Selamat mencoba !!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s