Lapas yang Aneh

Siapa sih yang nggak punya bayangan ’seram dan mencekam’ begitu mendatangi rumah tahanan? dan aku bukanlah satu pengecualian. Bayangan para tahanan dibalik jeruji besi dengan para penjaga berseragam berkeliaran membuat jantung menjadi lebih keras berdetak. Apalagi ditambah saran untuk tidak membawa HP saat masuk kedalam. Wuiiih.. makin deh.. seolah membenarkan rasa waswas itu.

Setelah sempat nyasar kesana kemari akhirnya aku dan teman-teman tiba juga di tempat tujuan. Maklum, ternyata ada 5 rumah tahanan di kota Tamgeramg dengan lokasi berdekatan, dan tiada satu orangpun di rombonganku yang tahu itu.

Ada yang janggal saat aku dan teman-teman akan melangkah masuk gedung. Pintu Gerbang yang tadi kita lewati dibiarkan terbuka tanpa penjaga. Lalu ’tanda tanya’ besar pun muncul di kepala demi melihat 3 remaja pria sedang menyapu halaman depan gedung.  Di bagian belakang kaosnya tertulis kata andik. Hmm.. andik??   ”Ini tahanan bukan ya?” ”Kok nyapu-nya di luar? apa ga khawatir kabur?”. Sekilas aku menebar pandangan.  Oo.. ternyata ada 2 penjaga disekitarnya yang sedang duduk santai dibangku panjang; tidak siaga, tanpa senjata, juga pentungan. Belakangan baru aku baru tahu bahwa Andik adalah singkatan dari Anak Didik, maksudnya tahanan.  Hmm.. lapas yang aneh aku rasa.

CERMINAN KONDISI SEBENARNYA

Kasian kepada ayahanda yang sudah baik

Kasihan kepada ayahanda yang sudah baik

Tiba didalam, kami ditemani ngobrol oleh pak Haru dan seorang ibu karyawan lapas. Sebetulnya kasus-kasus yang ada di tahanan anak adalah representasi dari kondisi remaja sebenarnya yang ada masyarakat kita saat ini, begitu kata Bapak Haru, yang sudah sekitar 2 tahunan menjadi kepala di lapas ini. Jumlah tahanan saat ini adalah 280an (aku lupa tepatnya), tapi aku ingat jumlah itu sudah jauh melebihi kapasitas/daya tampung Lapas. Batasan Usia tahanan adalah 12 s/d 18th. Sebagian besar kasus tahanan adalah terlibat narkoba, urutan kedua adalah pencurian, lalu pelecehan seksual/perkosaan dan pembunuhan dengan urutan yang kadang bergantian. Artinya, begitulah kira-kira gambaran ’kenakalan’ remaja di kota Metropolitan tercinta ini.

Tahanan termuda secara resmi tertulis berusia 12 tahun, tetapi menurut penilaiannya, paling usianyabaru 9 tahun.  Oppss !! masih muda banget ya?
”Nanti ibu liat aja sendiri, ada 3 tahanan dengan usia termuda”. Kasus ketiga anak itu adalah pencurian dan perkosaan disertai pembunuhan (dibakar). Alamaakk.. se seram itu ya?..

Falsafah dibalik dasi

Sepintas dasi yang dikenakan pak Haru seperti tak ada artinya, hingga luput dari pengamatan. Siapa mengira bahwa justru dibalik dasi tersebut tersimpan arti sesungguhnya dari “sebuah penghargaan terhadap makhluk manusia”; tanpa melihat sejarah, latar belakang dan status sosial-ekonominya.

Tahanan juga manusia. Kalimat sederhana ini belakangan memang jadi semacam ‘candaan’ saja. Tapi tidak demikian bagi Lapas, seolah makna yang sesungguhnya dari kalimat itu ditemukan kembali disini. Lewat sebuah proses belajar dan pengalaman yang cukup panjang, yaitu hitungan puluh tahunan berkeliling dan berpindah-pindah dari satu tahanan ke tahanan lainnya pak Haru akhirnya memang sampai pada satu ’kesimpulan’ bahwa untuk dapat ‘memasyarakatkan’ kembali para remaja yang ‘tersesat’ ini, harus digunakan cara-cara lain yaitu menghargai mereka sebagai seseorang, sebagai manusia meskipun tetap dalam pengawasan dan aturan-aturan. Dan terbukti dia telah mampu ‘melakukan’ perubahan yang luar biasa.

terlihat nyaman

dihargai dan dipercaya

Maka lahirlah seragam ’berdasi’ sebagai simbol penghargaan bersama-sama dengan beberapa perubahan kebijakan lainnya.

Ayahanda

”Kami persilahkan ayahanda Haru.. untuk membuka acara…”.

Hmm.. MC andik itu menyebutnya ‘ayahanda’. Katanya, memang itulah panggilan para andik terhadapnya, dan itu bukan cuma sebuah basa-basi, terbukti saat seorang andik ditanya ”begitu banyak peluang, kenapa tidak melarikan diri?” maka jawabnya sungguh mengherankan. ”Aku kasian sama ayahanda kalau melarikan diri karena dia sudah begitu baik”. Sementara di tempat lain sang ayahanda pun menyatakanbahwa baru ditempat ini ia merasakan adanya sebuah ikatan emosional yang begitu dalam terhadap tahanan.

andik termuda, masih imut-imut

andik termuda, masih imut-imut

Bagaimana hatinya tidak semakin tersentuh bila melihat para andik itu kembali muncul dihadapannya hanya untuk menyatakan kerinduannya kepadanya, setelah beberapa lama bebas dari masa tahanan. Maka pantaslah sebutan itu dilekatkan kepadanya. Bukan untuk berbasa basi, bukan demi sebuah reputasi, tapi benar-benar muncul dari lubuk hati.

Bertugas dengan hati

Bukan cuma berdasi, tetapi juga tidak ada lagi pentungan dan senjata api. Awalnya memang sulit, dan belaiupun mendapat protes dari karyawan karena sudah terbiasa ’mendisiplinkan’ andik dengan kekerasan. Tapi namanya sebuah perubahan besar tentu saja butuh waktu dan proses yang tidak sebentar. Perlahan masa-masa itu berlalu. Kini, tanpa perlu menggunakan kekerasan ternyata hasil yang dicapai luar biasa.

Aula, tempat kumpul dan berkegiatan

Aula, tempat kumpul dan berkegiatan

Ada kelas Bahasa Inggris dengan seorang guru ’bule’ dan sejumlah siswa andik sedang belajar dengan selingan kata dan canda, saat aku berjalan menuju aula. Lalu tepat disebelahnya pintu dan jendela kamar terbuka lebar hingga aku bisa masuk kedalamnya, sebuah ruang besar dengan 20an tempat tidur. Meski benda-benda didalamnya terlihat ’butut’ tapi kamar itu bersih dan rapi. Ada aula terbuka tempat mereka melakukan kegiatan bersama dilengkapi dengan sebuah TV yang tergantung dan seperangkat peralatan band terletak di sudut.

Dan akhirnya, inilah yang disebut Rumah Pintar, sebuah bangunan yang jadi kebanggaan mereka. Cukup besar, sehingga ada kesan dibuat dengan niat bukan hanya ’asal ada’. Ruang terbagi 2 bagian yaitu perpustakaan dan tempat pameran. Disini dipajang lukisan-lukisan dan buah karya lainnya dari para andik.

Bukan cuma itu, mereka juga punya group band lho… Sekali sebulan group band mereka manggung di mall BSD, tanpa kawalan ketat. Lalu mereka pun punya MC andalan yang cukup trampil untuk bicara didepan. Dan jangan salah, hadir diantara mereka ’Hengky Kurniawan dan Ariel Peter Pan’ versi lawak. karena tugas mereka adalah melawak lewat kata-kata🙂. Lalu masih ada beberapa kegiatan positif lainnya yang terus dipupuk dan masih dalam proses diusahakan.

Rumah Pintar, menghasilkan orang-orang pintar ;)

Rumah Pintar, menghasilkan orang-orang pintar😉

Diakui oleh pak Haru bahwa semua itu bukan seperti sulap. Meski dibuat juga ’sekolah’ agar proses pembelajaran tidak putus selama dalam tahanan, tetapi menyekolahkan mereka bukan hal yang mudah karena kebanyakan para andik sudah mengalami demotivasi bahkan sejak sebelum mereka masuk tahanan, apalagi untuk membudayakan kegemaran membaca. Meski sudah disediakan ruang perpustakaan namun jumlah ‘pengunjung’ belum sesuai harapan. Saat ini buku yang ’laku’ dibaca adalah yang berupa cerita bergambar.

Itulah situasi dan kondisi andik dan lapas anak tangerang saat ini. Sangat terasa adanya keterlibatan hati dalam penanganannya, yang dibangun dan dikembangkan terus dengan didasari penghargaan dan kepercayaan. Kini pintu itu terbuka lebar bagi siapapun yang ingin berkunjung dan menjalin kerja sama.

Kesehatan dan Masa Depan

Meski telah terjadi perubahan yang cukup besar tapi tetap masih ada hal yang menjadi keprihatinan yaitu Kesehatan dan Masa Depan. Pengalaman menunjukkan tidak mudah membawa andik/tahanan yang menderita sakit ke Rumah Sakit karena reaksi pertama sudah pasti ’menolak’ meskipun anak menderita penyakit berat dan sangat butuh pertolongan. Kejadian demi kejadian serupa membuat ia mulai berpikir tentang dibuatnya klinik khusus tahanan, dan tentunya hal ini lagi-lagi merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah untuk diwujudkan.

bergembira dibalik jeruji

bergembira dibalik jeruji

Saat di dalam para andik itu sangat mendambakan kebebasan dan berharap dapat kembali hidup ditengah masyarakat. Tapi nyatanya, masyarakat tidak menerima dengan tangan terbuka. Cap ’bekas penjahat’ sudah terlanjur melekat hingga sulit untuk menghilangkan rasa was-was dan curiga. Maka cerita ’kalau sudah pernah menjadi tahanan maka pasti akan kembali ke tahanan lagi’ akhirnya menjadi kenyataan. Karena hanya ditempat itu lah mereka merasa diterima dengan ”tangan terbuka”.

Tapi harapan masih selalu ada. Pak haru pun mulai menjalin kerjasama dengan LSM yang membangun rumah singgah yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara bagi para andik yang sudah bebas, sebelum benar-benar terjun kembali ke tengah masyarakat. Ditempat ini mereka diberi berbagai pembekalan untuk membantu penyesuaiannya kembali. Namun.. kembali lagi, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan, dibutuhkan kegigihan dan kesabaran.

Bagaimanapun harapan adalah semangat untuk berusaha agar esok bisa menjadi lebih baik. Dan akhir kata pak Haru menyatakan, ia mau menerima kerja sama dan sumbangan dalam bentuk apapun demi kebaikan andik. Dan untuk itu ia menyatakan bersedia mengambil sumbangan kemanapun.

KESAN – HARAPAN

Hmm.. bagiku ini sungguh sebuah Lapas yang ‘aneh’ karena tidak sesuai dengan perkiraan🙂 tapi harapanku begitu besar oleh karenanya, semoga penamaan “pemasyarakatan” bagi lembaga, yang terdengar sopan dan manusiawi ini, benar-benar berarti ‘menjadikan/membantu para remaja didalamnya kembali ke kondisi yang bisa diterima masyarakat’. Dan semoga saja kelak bermunculan lah pak Haru pak Haru lainnya di Lapas anak yang lain.

(lihat juga judul : “Semoga Inspirasi itu Ada Disana“, category : Lapas Anak)

Special thanks to Anis – Daya Insani yang sudah bersedia berbagi foto denganku.

NN

7 thoughts on “Lapas yang Aneh

  1. shallypristine

    numpang ngomen,,
    saya lagi bikin TA tentang LAPAS anak di bandung..
    heu,, permasalahannya sungguh rumit..
    tulisan mbak menginspirasi saya..
    terimakasi..

    Reply
  2. Pingback: Sekolah Master Gratis (1) « Tomorrow!

  3. Iwon Andria D.

    Bagus Ratnaa..! biar terlihat semua sisi khan, diantara sebelanga nila, banyak juga susu murni yang menyehatkan to di Lapas Anak Tangerang ini.Sukur sukur lapas ini bener -2 jadi percontohan yaa, gemana ngelolanya, gemana bersikap..

    Reply
  4. Pingback: Semoga Inspirasi itu ada Disana « Tomorrow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s