Ketika test IQ bocor

Walaupun sudah bukan jamannya mengandalkan IQ tok, tapi penggunaan alat test pengukur tingkat Inteligensi (IQ) masih umum digunakan dalam psikotest. Bukan lagi sebagai alat penentu nasib🙂 melainkan sebagai pelengkap gambaran tentang diri seseorang.

Saking popularnya psikotes; dalam artian sudah banyak orang yang pernah mengalaminya, atau mungkin sudah banyak info ‘berkeliaran’ tentang alat ini maka sejumlah orang pun melakukan usaha-usaha tertentu demi ‘meningkatkan IQ’ dan lolos psikotes. Tidak cukup dengan hanya membeli buku-buku latihan test IQ yang beredar di toko-toko buku, tapi usaha-usaha untuk mendapatkan buku soal asli pun dilakukan.

Alkisah suatu saat, instruktur dan pengawas psikotes heboh karena menemukan buku soal test IQ di map salah satu karyawan sebuah bank BUMN yang menjadi peserta assessment. Cilakanya alat test itu sedang digunakan pada saat itu. Dengan amat sangat terpaksa disitalah ‘barang curian’ tersebut karena memang demikianlah kode etiknya, buku soal itu jelas bukan untuk umum. Maka tidak perlu merasa heran kalau sang karyawan tersebut AKHIRNYA jadi ber IQ tinggi🙂.

Ntah darimana dapatnya, tidak ada yang tahu dan memang tidak pernah di selidiki lebih lanjut. Namun jelas kejadian ini menjadikan keprihatinan sendiri bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia assessment dan peduli akan ‘keakuratan’ hasil. Ini bukan kejadian pertama kali, sudah cukup banyak teman-teman assessor yang mengalami hal serupa pada saat menyelenggarakan psikotest.

Berbuat curang demi mencapai keberhasilan memang bukan ‘barang baru’ di negara kita, berusaha memperoleh ‘bocoran’ jawaban test IQ jelas bukan kekecualian. Jadi tidak perlu terlalu terkejut dengan kejadian-kejadian seperti ini, ‘nyantai’ saja lah.. Namun ada pertanyaan yang menjadi ganjalan hati yaitu “apakah mereka benar-benar paham akan arti dari psikotes” ataupun assessment model apapun itu.

Kalau tidak paham itu lebih baik, karena berarti mereka tidak tahu ‘apa yang sedang mereka lakukan’ saat berusaha mencari bocoran atau contekan. Tetapi kalau mereka paham dan ternyata masih berusaha berbuat curang berarti mereka bukan hanya mengelabui publik tetapi juga mengelabui dirinya sendiri. Terhadap diri sendiri saja berbuat tidak jujur, apalagi terhadap orang lain.

PSIKOTES

Psikotest adalah serangkaian test atau tugas yang secara umum digunakan untuk ‘mengukur’ potensi/kapasitas intelektual (IQ, daya analisis, penalaran, dll.) dan untuk mendapatkan gambaran kepribadian seseorang; (penyesuaian diri, motivasi, stabilitas emosi, kematangan, perasaan-perasaan, harapan-harapan, dll.,) Biasanya test ini ditutup oleh wawancara dan dilengkapi dengan observasi tentunya. Berdasarkan hal tersebut maka diperolehlah gambaran yang relatif lengkap tentang diri seseorang. Lalu berdasarkan itu dibuatlah semacam ‘peramalan-peramalan’ untuk kepentingan yang bersangkutan, atau lembaga/perusahaan/sekolah yang menyelenggarakan. Seperti misalnya bidang pendidikan apa saja kah yang paling sesuai, apakah ybs dinilai ‘tepat’ untuk menduduki posisi/jabatan tertentu, atau pekerjaan jenis apa saja yang paling sesuai buat ybs. atau apakah ybs sudah dapat direkomendasikan untuk menduduki tingkat jabatan tertentu, dlsb.

Materi test bukanlah sesuatu yang harus dipelajari terlebih dahulu sebelumnya. Tidak seperti bahan ulangan, kuis, ataupun ujian yang bertujuan mengukur pemahaman anda, atau mungkin daya hafal (?). Dalam hal ini yang diukur adalah POTENSI/KAPASITAS maka tidak dibutuhkan belajar atau latihan apapun. Seseorang hanya perlu berkonsentrasi dan berusaha sebaik mungkin.

Begitulah kurang lebih gambaran umumnya. Namun perlu diingat bahwa ALAT TEST BUKAN SEGALANYA; Seyogyanya bagi para psikolog/assessor dia hanyalah alat pendukung untuk memperolah data/gambaran tentang seseorang. Sebetulnya alat utama dari sebuah usaha penelaahan/pemeriksaan psikologis adalah wawancara dan observasi.

Jadi bagaimanapun canggihnya anda dalam mendapatkan soal test dan jawaban/bocoran psikotest, biasanya para assessor berpengalaman bisa “menciumnya baunya” sehingga penelaahan akan lebih diperdalam lewat wawancara dan observasi. Jika seseorang melakukan kecurangan maka sebetulnya dia sudah ‘membantu’ meringankan usaha asesor dalam penilaian sisi integritasnya, yaitu meragukan. Maka, bukannya untung didapat, anda malah terperosok kedalam lubang hasil galian sendiri.

Jadi untuk apa kebohongan itu? anda bukan hanya mengelabui khalayak tentang potensi diri, tetapi lebih dari itu, anda sedang berusaha mengelabui diri sendiri. Lalu bagaimana cara anda menghadapi dunia kalau anda harus menjalankan peran sebagai orang lain? karena hasil test anda samasekali tidak menggambarkan diri anda.

Jadi apa yang harus dilakukan sebagai persiapan? Malam hari sebelum test, tidur lah yang nyenyak. Pagi harinya, sarapan seperti biasa. Di tempat test berusahalah untuk tenang dan rileks, konsentrasi penuh dan yang tidak kalah penting adalah berusahalah sebaik-baiknya. Hanya itu yang perlu anda lakukan. Sederhana dan mudah bukan?

Semoga kejujuran tetap menjadi pedoman hidup kita semua. Jujur terhadap orang lain dan jujur terhadap diri sendiri.

(baca juga : KRAEPELIN test !!)

NN

2 thoughts on “Ketika test IQ bocor

  1. Pingback: KRAEPELIN test !! « Tomorrow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s