Gunanya mbah dukun

Masih tentang mertua, tapi kali ini bukan mertua ku.

Sebagai sesama menantu perempuan yang sama-sama punya sindrom mertua phobia maka tukar menukar cerita dan info hangat ‘seputar peristiwa’ adalah hal yang lumrah tokh?

Sang menantu adalah teman baikku. Beberapa kali dia diajak ipar-iparnya pergi ke orang pinter. Tapi jangan membayangkan sosok orangtua berbaju hitam yang di asapi kemenyan, dupa dan dibaui kembang 7 rupa. Sang dukun kali ini, meskipun berumur paruh baya, justru bertato dan berbahasa dua, bahasa Indonesia dan bahasa gaul🙂

Karena beberapa kali jumpa akhirnya temanku itu jadi berteman baik dengan si mbah dan istrinya. Hidup saling membantu dan sering ber telponan dan ber sms ria, baik dalam rangka curhat ataupun sekedar bertanya kabar dan bertukar info, tapi tentu saja tanpa setahu ipar-ipar, suami, apalagi mertua.

Alkisah suatu hari sang mertu pun dan ipar-ipar datang mengunjungi si mbah, bertanya ini dan itu termasuk soal menantu, yaitu temanku itu. Rupanya sang mertu berniat menyelediki dan meneliti, karena menurut gosip🙂, dia tidak setuju temanku bekerja walau cuma paruh waktu. Dan ketidaksetujuannya itu konon sering dihembus-hembuskan kepada anaknya dan.. jelas sangat diamini oleh sang anak. Padahal dulu dikala hidup mereka masih serba susah, temanku itu jelas berperan besar dalam kelangsungan biaya hidup keluarganya dengan bekerja keras.

Saat pertanyaan mertua mulai meluncur, tanpa pikir panjang, apalagi ‘menerawang’ si mbah langsung menjawab dengan semangat ”wah ibu ngga usah khawatir.. menantu ibu itu sayaaaaannggg banget sama anak ibu”. Lalu blum juga lanjut nanya si mbah udah nyerocos lagi :”Ibu, ga usah khawatir deh.., menantu ibu orangnya baik sekali. Yang penting sekarang ini, ibu jangan terlalu banyak mencampuri masalah rumah tangganya, jangan terlalu sering mengeluh dan mengadu ini dan itu sama anaknya.

Pokoknya jangan segala sesuatu dijadikan masalah deh. Anak ibu sendiri sedang dalam keadaan baik, kehidupannya lagi bagus, lebih baik ibu doakan yang sebaik-baiknya, bukankah doa seorang ibu itu manjur?”. Sang mertu pun mengangguk-angguk tanda setuju dan sependapat.

Setelah rombongan mertua pulang, telpon si mbah berdering. ”Udah pada pulang mas?” ternyata yang nelpon sang menantu🙂. ”Udahh.. ”jawab si mbah. ”Trus mas ngomongin yang baik-baik kan soal aku?”. ”Ga usah khawatir, beresss… pokoknya semuanya yang bagus-bagus. Tenang aja”. Maka temanku pun tersenyum lebar diujung sana.

Esoknya, pagi-pagi sang mertu menelpon temanku itu. Dia cerita panjang lebar tentang kepergiannya ke rumah mbah dukun. Dan.. kata penutupnya adalah, ”sekarang sih mama mau banyak berdoa aja buat semua anak supaya hidupnya baik-baik dan selamat”. Temanku kembali tersenyum-senyum diujung telpon. Hehe… Amiiinnn… aku ikut senang denger kata ahirnya karena aku tahu banget si menantu ini memang seorang istri dan ibu yang baik sekali sekaligus pekerja keras luar biasa.

Hmm.. memang itulah gunanya mbah dukun. Bisa dititipi pesan-pesan sponsor untuk “menyelesaikan masalah dalam sekejap tanpa perlu berpikir keras”.

Nana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s