Mengejar Surga Menghindari Neraka

Gambaran neraka begitu berbekas dibenakku, apalagi waktu aku masih duduk di SD komik tentang cerita neraka sempat marak beredar dilingkungan rumah dan akupun membacanya.. Wuiihhh.. serem banget dan sanggup membuat aku bergidik. Biarpun itu cuma sebuah komik, dengan coretan gambar sang pengarang yang pas2an (masih kebayang gambarnya nih :)), tapi mempan juga tuh buat nakutin anak-anak seumur aku waktu itu.

Sedangkan gambaran surga kayaknya ngga se-berbekas neraka, sebab gambarnya asik-asik aja, ngga ada sesuatu yang baru dan ngga ada sesuatu yang membuat ‘shock’ juga. Yang jelas, alamaaaak.. sedapnyaa.. Apapun yang kita inginkan langsung tersedia. Terbayang suasana yang damai-tenteram, makanan berlimpah, buah beraneka, air gemercik mengalir menambah rasa sejuk nyaman tiada tara.

Lain lagi dengan gambaran tentang Tuhan, samasekali sukar untuk dibayangkan. Daya pikir ataupun imaginasi manusia tak pernah sanggup untuk menggambarkannya. Waktu kecil, begitu aku ‘diperkenalkan’ dengan Tuhan, bayangan yang muncul di benak adalah bapak-bapak pada tiduran dibalik langit sana sambil ngintip perilaku manusia di bumi.. hehe… tapi itu dulu… Sekarang jelas lah aku mulai paham bahwa kita hanya dapat menumbuhkan rasa akan keberadaan Tuhan lewat pengamatan dan perenungan terhadap berbagai karya besarnya di alam jagad raya ini, dan (umunya) terhadap pengalaman hidup pahit yang kita jalani.

Jadi sementara cukup mudah untuk mebayangkan situasi surga dan neraka, Tuhan begitu sulit untuk dibayangkan, apalagi kalau kita terpaku pada harapan dapat membayangkan wujudnya, merasakan kehadirannya secara langsung dan nyata. Maka jelas semua itu sia-sia. Mungkin, itu lah sebabnya akhirnya ada juga orang yang tidak meyakini keberadaan Tuhan. Padahal kalau sampai Tuhan mewujudkan dirinya, apakah manusia akan serta merta mempercayainya bahwa itu ada lah Tuhan?

Orang-orang yang percaya lalu berlomba untuk berbuat kebajikan dan menghindar dari keburukan. “Mengejar surga menghindari neraka” jadi pedoman dalam menjalani hidup. Saking fokusnya pada perintah dan larangan maka makna dibalik ketentuan itu pun luput dari pemikiran.

Bukan lagi karena rindu akan hati yang damai sehingga ingin selalu dekat denganNya, bukan lagi rasa ikhlas saat bersimpuh dan berserah diri padaNya, tidak lagi menghayati nikmat dan syukur saat kebajikan dilakukan, bahkan ‘demi mencapai surga dan terhindar dari neraka’ akhirnya sanggup menghilangkan rasa kasih saat melakukan tindak kekerasan.

Jika demikian ngga usah heran kalau ada orang pergi beribadah haji dengan uang hasil korupsi, lalu ada sekelompok orang yang tak ragu merusak, melakukan kekerasan, bahkan membunuh atas nama jihad, atau ada juga yang memilih berjilbab tapi tak ragu berpegangan tangan dan berpelukan dengan bukan muhrim.

Akal dan hati tidak lagi berfungsi selaras. Padahal bukankah Tuhan menganugerahkan semua itu agar manusia berpikir, lalu berusaha menjadi makhluk yang berarti, yang bernilai tinggi, bukan sekedar mengejar surga menghindari neraka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s