“Aneh” memang, psikotes kok disuruh ngitung-ngitung angka.., kaya ga ada kerjaan aja..
Bahkan kalau aku tak salah ingat, Benyamin Mangkudilaga yang SH itu pernah protes (di koran kompas beberapa tahun lalu) sehubungan dengan penggunaan alat tes ini untuk asesmen di sebuah institusi pemerintah, BPK atau KPK? (mohon maaf, aku sudah lupa, dan tak berhasil mencarinya di Google search).
Kraepelin adalah salah satu alat tes yang sering digunakan dalam pemeriksaan psikologis atau psikotes. Kalau anda pernah melihatnya atau mungkin menjalaninya – meskipun telah cukup lama berlalu – pasti anda akan tetap ingat, karena tes ini mempunyai ‘bentuk’ yang agak berbeda dari alat tes lain. Dia berupa lembaran besar yang berisi deretan angka dari atas kebawah dan berbaris-baris. Ya, itu lah yang disebut tes kraepelin.. !!
Teman, mengapa alat tes “aneh” itu digunakan dalam psikotes? tentu saja ada ‘reason’ yang benar dibelakangnya. Dan yang perlu diketahui oleh umum adalah bahwa setiap alat tes yang digunakan dalam pemeriksaan psikologis adalah hasil penelitian dan pengujian bertahun-tahun, berulang-ulang oleh para ahli psikologi demi menguji validitas dan reliabilitasnya.
APA YANG DI UKUR ?
Alat ini samasekali tidak mengukur kemampuan berhitung bahkan tidak ada hubungannya ! dan aku bisa memahami kalau anda kembali merasa heran, karena dulu akupun demikian
Secara umum alat ini mengukur beberapa aspek terkait kepribadian dan cara kerja dalam situasi yang cukup menekan. Sebagai BAGIAN dari alat tes psikologis, alat ini mempunyai fungsi SALING MELENGKAPI dengan alat tes lain, dengan hasil wawancara dan observasi.
HARUS RATA?
Nah ini kejadian yang sering kami (para psikolog) jumpai. Setelah di periksa ternyata hasil kreapelin berbentuk garis lurus/rata. Artinya, peserta tes mengabaikan instruksi dan dia berusaha untuk “meratakan” ketinggian hasil hitungannya sesuai dengan ketinggian awal hitungan yang berhasil ia capai. Hmmmhhh…. kalau sudah begini, yang dapat kami lakukan memang hanya ‘menarik nafas panjang’, dan semakin sering kami temukan kasus seperti ini, semakin panjang nafas kami
Maksudnya? yah kami kesal dan kecewa karena asesee (peserta tes) sudah melakukan kesalahan fatal. Satu, tes krapelin menjadi agak mubajir karena kami tidak dapat memberi penilaian yang benar. Dua, hasil penilaian kami malah akan merugikan peserta karena kami mulai mempertimbangkan sisi integritasnya, yaitu kejujuran. Yang telah anda lakukan dapat kami interpretasikan sebagai perbuatan curang dengan mencari-cari ‘contekan’. Dan, yang paling membuat kami kecewa adalah ketika ternyata kasus seperti ini berulang terus. Hal ini bisa berarti telah terjadi kesalahan pemahaman secara meluas terhadap alat tes ini, dan kenyataan bahwa masih ada saja orang-orang yang mau mencari cara-cara mudah untuk berhasil
YANG SEHARUSNYA
Lalu, apa yang seharusnya dilakukan?? maka aku akan kembali ke artikel ku mengenai pemeriksaan psikologis (baca : Ketika Test IQ Bocor), bahwa yang penting dilakukan menjelang test adalah tidur yang cukup dan relax agar anda dapat berkonsentrasi. Saat tes dimulai, konsentrasi lah.. dengarkan instruksi dan selesaikan tugas SESUAI INSTRUKSI. Hanya itu !! tidak ada trik-trikan, karena trik apapun yang anda gunakan, Insya Allah dapat kami deteksi, dan untuk trik sekecil apapun hanya ada satu pertimbangan yang mungkin bagi diri anda, yaitu integritas anda patut dipertimbangkan !!
Itulah sekilas tentang Tes Kraepelin, semoga bermanfaat.. dan kembali aku berpesan, jujurlah dalam berusaha mencapai sebuah prestasi dan keberhasilan. Good Luck !!
NN
26 Mei 2011
Pingback: Ketika test IQ bocor « Tomorrow!