Inikah Pahala ?
Ada yang tau gak sih pahala itu apa sebenarnya, dan bentuknya seperti apa? Hmm.. pasti bingung karena belum pernah ada satu orang pun yang bersaksi pernah melihat yang namanya si pahala kan ??
tapi meski demikian tokh seruan itu tetap dikumandangkan dimana-mana.
Mari berlomba mencari pahala. Buat apa? ya tentunya supaya bisa masuk surga dong, memang ada peruntukan lain selain itu? Pahala kan sering di sebut-sebut sebagai tiket masuk surga oleh banyak orang. Masa iya kita disuruh berlomba mengumpulkan pahala tapi ga tau tujuannya untuk apa? Tanpa harus merinci lebih detil rasanya hampir setiap orang sudah paham dengan apa yang dimaksud, mesti maksudnya adalah agar orang-orang ber segera lah dan ber banyak-banyak lah berbuat kebaikan. Wahh.. bisa jadi berbahaya nih. Bukan tidak mungkin akhirnya manusia terjebak oleh hitung-hitungan perolehan pahala tanpa peduli apalagi menghayati prosesnya.
Pemahaman umum tentang pahala rasanya sih standard, yaitu, kurang lebih artinya sama dengan ‘reward’ atau hadiah atau ganjaran. Tapi, sementara ‘reward’ itu bisa kelihatan wujudnya (bisa juga tidak) maka tidak demikian dengan pahala, dia bagai sebuah teka teki “di kejar-kejar banyak orang walaupun tidak bisa dilihat”, itu lah pahala.
Daripada bingung berkepanjangan, mari kita tengok belahan bumi lain yaitu di barat sana. Siapa yang tidak tahu acaranya Oprah? rasanya tidak akan ada yang unjuk tangan disini, kalaupun ada percuma saja karena aku tidak bisa melihatnya.. hehe.. Pada suatu waktu dia membuat satu acara yang cukup unik, yaitu membagi-bagikan sejumlah uang kepada pemirsa (yang beruntung) dimanapun berada. Masing-masing mendapat 200 atau 400 dollar (aku lupa tepatnya). Bukan untuk digunakan oleh pribadi tetapi harus di dermakan kepada orang lain yang mereka inginkan. Apa tujuannya? mendapat pahala? Mmm.. bingung. Emang mereka ngerti pahala? waahh gak tau deh, tapi jelas mereka tahu arti ‘reward’, wong bahasanya dewe
Apa tujuan Oprah dengan acaranya itu? Jawabannya jelas tersurat dari jawaban-jawaban mereka yang kebagian dollar tadi terhadap pertanyaan “Apa yang mereka rasakan saat mereka dapat memberi uang kepada mereka yang membutuhkan?” Jawabnya macem-macem, tetapi intinya mereka dapat merasakan atau menghayati bagaimana nikmatnya berbuat baik terhadap orang lain. Bagaimana bahagianya hati ketika dapat berbuat kebaikan, membantu orang-orang yang berkesusahan.
Sebetulnya tidak perlu menonton acara Oprah untuk bisa mengetahui perasaan itu. Semua orang pasti akan merasakan hal yang sama. Oprah hanyalah mengingatkan kembali, mengangkat kepermukaan, agar orang-orang lebih menyadari, “ngeh” dengan perasaan positif itu sehingga lain kali bisa lebih menghayati dan menikmati arti dari berbuat baik.
Ahaa !!… Jangan-jangan ini dia yang namanya pahala.
Di dalam teori psikologi belajar, ada 2 jenis ‘reward’ yaitu yang bersifat intrinsik dan yang ekstrinsik. Reward Intrinsik adalah ‘hadiah’ atau ganjaran yang ‘diberi’ oleh diri sendiri, bukan dari luar. Rasa puas, rasa lega, rasa bahagia dan rasa bangga adalah contoh dari ganjaran tersebut. Dia dapat muncul dengan sendirinya segera setelah seseorang berbuat sesuatu yang baik. dan dapat mendorong seseorang untuk mengulangi kembali perilaku tersebut.
Sementara reward ekstrinsik adalah hadiah atau ganjaran yang muncul atau diberi dari luar, seperti misalnya mendapat hadiah uang karena tamat puasa, atau mendapat ‘Award’ karena berani dan mau mengakui telah melakukan korupsi seperti pada kasus anggota DPR Agus Condro. Jelas bahwa kedua reward ini berfungsi sama yaitu ‘agar perilaku yang diharapkan muncul kembali atau dilakukan kembali’. Biasanya reward ekstrinsik digunakan dengan harapan pada akhirnya seseorang akan selalu berperilaku sesuai harapan tanpa berpikir akan mendapat hadiah atau ganjaran nyata.
Inikah pahala? reward intrinsik yang akan menuntun manusia untuk senantiasa berbuat kebajikan dengan ikhlas tanpa pamrih? Apabila benar, maka berbahagia lah kita karena ternyata yang namanya pahala itu ada di dalam diri manusia itu sendiri; dia adalah berbagai perasaan indah yang muncul saat berbuat kebaikan. Artinya bila berbuat baik itu bertujuan riya alias untuk pamer semata maka rasa itu mungkin tidak pernah ada. Apakah itu berarti tak berpahala? Dan, kalau saja anda pernah merasakan berbagi dengan ikhlas justru saat sedang tidak punya bin miskin maka nikmat itu begitu luar biasa terasa. Apakah itu berarti pahala berlimpah?
Walahualam. Hanya Allah yang Maha Mengetahui dan yang menciptakan segala nikmat dan rasa.
NN

Inikah pahala? reward intrinsik yang akan menuntun manusia untuk senantiasa berbuat kebajikan dengan ikhlas tanpa pamrih? Apabila benar, maka berbahagia lah kita karena ternyata yang namanya pahala itu ada di dalam diri manusia itu sendiri; dia adalah berbagai perasaan indah yang muncul saat berbuat kebaikan. Artinya bila berbuat baik itu bertujuan riya alias untuk pamer semata maka rasa itu mungkin tidak pernah ada. Apakah itu berarti tak berpahala? Dan, kalau saja anda pernah merasakan berbagi dengan ikhlas justru saat sedang tidak punya bin miskin maka nikmat itu begitu luar biasa terasa. Apakah itu berarti pahala berlimpah?
Walahualam. Hanya Allah yang Maha Mengetahui dan yang menciptakan segala nikmat dan rasa.
Pada untaian alinea yang santun tersebut mengalirkan energi yang menenangkan jiwa, menenteramkan perasaan, dan membangkitkan optimisme.
Terima kasih, dan salam.
Arigato san said this on November 5, 2008 at 11:37 am |
[...] aku juga sering berpikir tentang ‘pahala’ ini. Kalau mendapat penekanan yang berlebihan maka menjadi seperti suatu “pendangkalan” [...]
Alhamdulillah.. Assallamualaikum.. Astaghfirullah.. « Tomorrow! said this on April 19, 2009 at 7:54 am |