Tomorrow!

you are always a day away..

“Dont do this at Home” ;)

Kadang kita harus berani ‘gila-gila’an supaya hidup tidak membosankan. Itu kata film yang aku tonton semalam, dan aku setuju itu.. Sangat. Dulu aku suka juga sedikit ‘gila-gilaan’, engga berani banyak, takut jadi gila beneran. Bagiku ‘gila-gilaan’ berarti berbuat iseng, lucu-lucuan, menimbulkan rasa senang, dan.. sedikit melanggar aturan atau kebiasaan-kebiasaan umum ;). Dengan begitu rasanya hidup jadi lebih hidup, begitu kata sebuah iklan.

Maka terjadilah keisengan itu di era kejayaan mantan presiden Soeharto. Saat itu aku dan teman-teman SMA sedang semangat ‘45 membuat dan memasang poseter-poster anti Soeharto di sekolah, secara diam-diam tentu saja. Sebuah motor masuk halaman dan berhenti sangat dekat denganku. Sang pengendara turun dan tiba-tiba tanganku di cengkramnya seraya mengacungkan pistol ke hadapanku dan membentak: “Mana yang lain !!!”. Waahh.. pistol beneran nih? seumur-umur baru kali ini aku melihat yang namanya pistol dan ditodongkan padaku pula, jelaslah tubuhku langsung gemetaran tanpa bisa diajak kompromi. Aku pun diam saja dan pasrah. Beberapa orang tentara menyusul kemudian.

Aku memang tidak sendirian, ada beberapa teman lain yang tersebar di seluruh pelosok gedung sekolahku yang luas itu. Rupanya mereka sempat mengintip, dan para tentara itu menyeruak masuk ke area dalam sekolah. Tidak lama kemudian teman-temanku bermunculan satu demi satu.

Siangnya sekolahku pun heboh. Ada 11 orang siswanya diangkut tentara di pagi-pagi buta, 9 orang siswa pria dan 2 orang perempuan; aku dan sahabatku.

Kalau tak salah waktu itu aku dan teman-teman dibawa ke Kantor Kodim, lalu ditampung di satu ruangan. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya kita dipanggil satu persatu dan terpisah-pisah untuk diinterogasi. Mereka mengira ada dalang seorang mahasiswa dibalik aksi poster anti Soeharto yang sering kita lakukan saat itu. Waktu itu th 1979 , memang marak demo mahasiswa dan aksi poster di sejumlah SMA di Bandung dan beredar juga secara gelap ‘buku putih’, yang berisi antara lain info tentang makam keluarga Soeharto yang konon mewah (untuk ukuran saat itu).

Dak dik duk juga sih nunggu giliran di interogasi, apalagi menurut ‘kasak-kusuk’ terjadi tindak kekerasan terhadap satu temanku (yang berbadan cukup tinggi dan besar) karena diduga pemimpin aksi poster ini. Padahal setahuku teman yang satu itu disekolah tergolong ‘gila’ banget dan hobi nyari-nyari bahan untuk cekikikan :). Tapi rupanya ini cuma gosip belaka, yang jelas saat itu di Kodim terjadi kehebohan lain, ternyata temanku ini adalah anak bekas Komandan Kodim… hehe.. Maklum, saat itu mana ada sih tentara/polisi yang berani (terang-terangan) bersikap anti Soeharto? maka demi mengetahui seorang anak bekas Dandim nekad menunjukkan sikap anti soeharto hebohlah mereka. Tapi karena itu juga akhirnya kita semua terselamatkan. Jam 6 sore, semua di serah terima kan ke ortunya masing-masing.. Lha? berjuang kok pulangnya di jemput ortu, malah diiringi oleh nasihat dari sang Komendan.. Rupanya kita dianggap masih “anak kemarin sore”, tapi nekad.. :)

Dalam perjalanan mendekati rumah, aku melihat pak RT mengepalkan tangan keatas seraya  berteriak “Merdeka !!” hehe.. rupanya cerita ‘kepahlawananku” menyebar juga sampai di lingkungan RT. Serasa deh aku jadi pahlawan beneran, padahal saat itu yang aku kerjakan bersama teman-teman hanyalah membuat poster, poster daan poster… Lalu pagi-pagi buta mengendap ngendap masuk gedung sekolah, mulai menempel poster  ke seluruh penjuru sekolah. Maka tak ayal, saat jam sekolah dimulai, heboh deh satu sekolahan.. Setelah beberapa hari terjadi aksi poster terus menerus maka akhirnya proses ajar mengajar pun ditiadakan. Semua murid, bahkan guru pun, malah berkeliling sekolah untuk membaca poster-poster itu. Mimbar bebas pun tak terhindarkan. Ahaa! nikmatnya hidup di dunia saat itu, sungguh tiada tara.. :)

Bagiku cerita ini memang termasuk ‘gila-gilaan’ di satu sisi, tetapi juga ada semangat ‘juang’ di sisi lain. Gila-gilaan karena buat aku dan teman-teman saat kita berkumpul, beramai-ramai membuat poster, lalu diam-diam memasangnya disekolah, adalah saat yang sangat menyenangkan sekaligus meningkatkan adrenalin ;). Itu semua tidak terlepas dengan apa yang disebut sebagai dunia remaja dan dunia teman sebaya (peer group). Tiada hari tanpa berkelompok. Tiada hari tanpa petualangan. Tiada hari tanpa ‘ketawa-ketiwi’.

Pada saat yang sama semangat ‘juang’ kita pun begitu membaranya, ditambah sedikit rasa ’sok tahu’ dan emosi yang mudah tersulut. Maka, meski tidak paham sepenuhnya dengan yang namanya dunia politik,  tetapi semua cerita buruk tentang sepak terjang Soeharto selalu sampai ke telinga kita, bukan cuma telinga mahasiswa. Meski ditutup rapat, cerita itu tetap berhasil menyusup kemana-mana, menyebar sempurna dan akhirnya menyulut amarah kaum muda. ‘Buku putih’ pun menjadi semacam ‘trigger’ (pemicu) terjadinya aksi duduk dan pemasangan poster-poster di kampus dan di beberapa SMA (dulu demo cuma berani duduk :) ). Tak terhindarkan tentarapun masuk kampus, bahkan di seberang sekolahku puluhan tentara setia mengawasi dibalik pagar rumah penduduk.

Maka jadilah semua itu sebuah petualangan yang seru dan mendebarkan. Sampai sekarang cerita ‘gila-gilaan’ itu jadi kenangan yang teramat manis buat aku dan teman-teman SMA. Setiap reuni cerita itu pasti dimunculkan kembali, dan selalu membuat kita tertawa dan menimbulkan sebuah rasa tertentu yang sulit diungkapkan.

Nana

August 19, 2008 Posted by Ratna Isnasari | my 'true story' | | 2 Comments

Lapas yang Aneh

Siapa sih yang nggak punya bayangan ’seram dan mencekam’ begitu mendatangi rumah tahanan? dan aku bukanlah satu pengecualian. Bayangan para tahanan dibalik jeruji besi dengan para penjaga berseragam berkeliaran membuat jantung menjadi lebih keras berdetak. Apalagi ditambah saran untuk tidak membawa HP saat masuk kedalam. Wuiiih.. makin deh.. seolah membenarkan rasa waswas itu.

Setelah sempat nyasar kesana kemari akhirnya aku dan teman-teman tiba juga di tempat tujuan. Maklum, ternyata ada 5 rumah tahanan di kota Tamgeramg ini dengan lokasi berdekatan, dan tiada satu orangpun di rombonganku yang tahu itu.

Ada yang janggal saat aku dan teman-teman akan melangkah masuk gedung. Pintu Gerbang yang tadi kita lewati dibiarkan terbuka tanpa penjaga. Lalu ’tanda tanya’ besar pun muncul di kepala demi melihat 3 remaja pria sedang menyapu halaman depan gedung. ”Ini tahanan bukan ya?” ”Kok nyapunya di luar? apa ga khawatir kabur?”. Sekilas aku menebar pandangan. Oo.. ternyata ada 2 penjaga disekitarnya yang sedang duduk santai dibangku panjang; tidak siaga, tanpa senjata, juga pentungan. Hmm.. lapas yang aneh.

CERMINAN KONDISI SEBENARNYA

Kasian kepada ayahanda yang sudah baik

Kasihan kepada ayahanda yang sudah baik

Tiba didalam, kami ditemani ngobrol disinioleh pak Haru dan seorang ibu karyawan lapas. Sebetulnya kasus-kasus yang ada di tahanan anak adalah representasi dari kondisi remaja sebenarnya yang ada masyarakat kita saat ini, begitu kata Bapak Haru, yang sudah sekitar 2 tahunan menjadi kepala di lapas ini. Jumlah tahanan saat ini adalah 280an (aku lupa tepatnya), tapi aku ingat jumlah itu sudah jauh melebihi kapasitas/daya tampung Lapas. Batasan Usia tahanan adalah 12 s/d 18th. Sebagian besar kasus tahanan adalah terlibat narkoba, urutan kedua adalah pencurian, lalu pelecehan seksual/perkosaan dan pembunuhan dengan urutan yang kadang bergantian. Artinya, begitulah gambaran ’kenakalan’ remaja di kota Metropolitan tercinta ini.

Tahanan termuda secara resmi tertulis berusia 12 tahun, tetapi menurut penilaiannya, paling usianyabaru 9 tahun. Oppss !! masih muda banget ya? ”Nanti ibu liat aja sendiri, ada 3 tahanan dengan usia termuda”. Kasus ketiga anak itu adalah pencurian dan perkosaan disertai pembunuhan (dibakar). Alamaakk.. se seram itu ya?..

Falsafah dibalik dasi

Sepintas dasi yang dikenakan pak Haru seperti tak ada artinya, hingga luput dari pengamatan. Siapa mengira bahwa justru dibalik dasi tersebut tersimpan arti sesungguhnya dari “sebuah penghargaan terhadap makhluk manusia”; tanpa melihat sejarah, latar belakang dan status sosial-ekonominya.

Tahanan juga manusia. Kalimat sederhana ini belakangan memang jadi semacam ‘candaan’ saja. Tapi tidak demikian bagi Lapas, seolah makna yang sesungguhnya dari kalimat itu ditemukan kembali disini. Lewat sebuah proses belajar dan pengalaman yang cukup panjang, yaitu hitungan puluh tahunan berkeliling dan berpindah-pindah dari satu tahanan ke tahanan lainnya pak Haru akhirnya memang sampai pada satu ’kesimpulan’ bahwa untuk dapat ‘memasyarakatkan’ kembali para remaja yang ‘tersesat’ ini, harus digunakan cara-cara lain yaitu menghargai mereka sebagai seseorang, sebagai manusia meskipun tetap dalam pengawasan dan aturan-aturan. Dan terbukti dia telah mampu ‘melakukan’ perubahan yang luar biasa.

terlihat nyaman

dihargai dan dipercaya

Maka lahirlah seragam ’berdasi’ sebagai simbol penghargaan bersama-sama dengan beberapa perubahan kebijakan lainnya.

Ayahanda

”Kami persilahkan ayahanda Haru.. untuk membuka acara…”. Hmm.. MC andik itu menyebutnya ‘ayahanda’. Katanya, memang itulah panggilan para andik terhadapnya, dan itu bukan cuma sebuah basa-basi, terbukti saat seorang andik ditanya ”begitu banyak peluang, kenapa tidak melarikan diri?” maka jawabnya sungguh mengherankan. ”Aku kasian sama ayahanda kalau melarikan diri karena dia sudah begitu baik”. Sementara di tempat lain sang ayahanda pun menyatakan

bahwa baru ditempat ini ia merasakan adanya sebuah ikatan emosional yang begitu dalam terhadap

andik termuda, masih imut-imut

andik termuda, masih imut-imut

tahanan. Bagaimana hatinya tidak semakin tersentuh bila melihat para andik itu kembali muncul dihadapannya hanya untuk menyatakan kerinduannya kepadanya, setelah beberapa lama bebas dari masa tahanan. Maka pantaslah sebutan itu dilekatkan kepadanya. Bukan untuk berbasa basi, bukan demi sebuah reputasi, tapi benar-benar muncul dari lubuk hati.

Bertugas dengan hati

Bukan cuma berdasi, tetapi juga tidak ada lagi pentungan dan senjata api. Awalnya memang sulit, dan belaiupun mendapat protes dari karyawan karena sudah terbiasa ’mendisiplinkan’ andik dengan kekerasan. Tapi namanya sebuah perubahan besar tentu saja butuh waktu dan proses yang tidak sebentar. Perlahan masa-masa itu berlalu. Kini, tanpa perlu menggunakan kekerasan ternyata hasil yang dicapai luar biasa.

Aula, tempat kumpul dan berkegiatan

Aula, tempat kumpul dan berkegiatan

Ada kelas Bahasa Inggris dengan seorang guru ’bule’ dan sejumlah siswa andik sedang belajar dengan selingan kata dan canda, saat aku berjalan menuju aula. Lalu tepat disebelahnya pintu dan jendela kamar terbuka lebar hingga aku bisa masuk kedalamnya, sebuah ruang besar dengan 20an tempat tidur. Meski benda-benda didalamnya terlihat ’butut’ tapi kamar itu bersih dan rapi. Ada aula terbuka tempat mereka melakukan kegiatan bersama dilengkapi dengan sebuah TV yang tergantung dan seperangkat peralatan band terletak di sudut.

Dan akhirnya, inilah yang disebut Rumah Pintar, sebuah bangunan yang jadi kebanggaan mereka. Cukup besar, sehingga ada kesan dibuat dengan niat bukan hanya ’asal ada’. Ruang terbagi 2 bagian yaitu perpustakaan dan tempat pameran. Disini dipajang lukisan-lukisan dan buah karya lainnya dari para andik.

Bukan cuma itu, mereka juga punya group band lho… Sekali sebulan group band mereka manggung di mall BSD, tanpa kawalan ketat. Lalu mereka pun punya MC andalan yang cukup trampil untuk bicara didepan. Dan jangan salah, hadir diantara mereka ’Hengky Kurniawan dan Ariel Peter Pan’ versi lawak. karena tugas mereka adalah melawak lewat kata-kata :) . Lalu masih ada beberapa kegiatan positif lainnya yang terus dipupuk dan masih dalam proses diusahakan.

Rumah Pintar, menghasilkan orang-orang pintar ;)

Rumah Pintar, menghasilkan orang-orang pintar ;)

Diakui oleh pak Haru bahwa semua itu bukan seperti sulap. Meski dibuat juga ’sekolah’ agar proses pembelajaran tidak putus selama dalam tahanan, tetapi menyekolahkan mereka bukan hal yang mudah karena kebanyakan para andik sudah mengalami demotivasi bahkan sejak sebelum mereka masuk tahanan, apalagi untuk membudayakan kegemaran membaca. Meski sudah disediakan ruang perpustakaan namun jumlah ‘pengunjung’ belum sesuai harapan. Saat ini buku yang ’laku’ dibaca adalah yang berupa cerita bergambar.

Itulah situasi dan kondisi andik dan lapas anak tangerang saat ini. Sangat terasa adanya keterlibatan hati dalam penanganannya, yang dibangun dan dikembangkan terus dengan didasari penghargaan dan kepercayaan. Kini pintu itu terbuka lebar bagi siapapun yang ingin berkunjung dan menjalin kerja sama.

Kesehatan dan Masa Depan

Meski telah terjadi perubahan yang cukup besar tapi tetap masih ada hal yang menjadi keprihatinan yaitu Kesehatan dan Masa Depan. Pengalaman menunjukkan tidak mudah membawa andik/tahanan yang menderita sakit ke Rumah Sakit karena reaksi pertama sudah pasti ’menolak’ meskipun anak menderita penyakit berat dan sangat butuh pertolongan. Kejadian demi kejadian serupa membuat ia mulai berpikir tentang dibuatnya klinik khusus tahanan, dan tentunya hal ini lagi-lagi merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah untuk diwujudkan.

bergembira dibalik jeruji

bergembira dibalik jeruji

Saat di dalam para andik itu sangat mendambakan kebebasan dan berharap dapat kembali hidup ditengah masyarakat. Tapi nyatanya, masyarakat tidak menerima dengan tangan terbuka. Cap ’bekas penjahat’ sudah terlanjur melekat hingga sulit untuk menghilangkan rasa was-was dan curiga. Maka cerita ’kalau sudah pernah menjadi tahanan maka pasti akan kembali ke tahanan lagi’ akhirnya menjadi kenyataan. Karena hanya ditempat itu lah mereka merasa diterima dengan ”tangan terbuka”.

Tapi harapan masih selalu ada. Pak haru pun mulai menjalin kerjasama dengan LSM yang membangun rumah singgah yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara bagi para andik yang sudah bebas, sebelum benar-benar terjun kembali ke tengah masyarakat. Ditempat ini mereka diberi berbagai pembekalan untuk membantu penyesuaiannya kembali. Namun.. kembali lagi, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan, dibutuhkan kegigihan dan kesabaran.

Bagaimanapun harapan adalah semangat untuk berusaha agar esok bisa menjadi lebih baik.

Dan akhir kata pak Haru menyatakan, ia mau menerima kerja sama dan sumbangan dalam bentuk apapun demi kebaikan andik. Dan untuk itu ia menyatakan bersedia mengambil sumbangan kemanapun.

KESAN - HARAPAN

Hmm.. bagiku ini sungguh sebuh Lapas yang ‘aneh’ karena tidak sesuai dengan perkiraan :) tapi harapanku begitu besar oleh karenanya, semoga penamaan “pemasyarakatan” bagi lembaga, yang terdengar sopan dan manusiawi ini, benar-benar berarti ‘menjadikan/membantu para remaja didalamnya kembali ke kondisi yang bisa diterima masyarakat’. Dan semoga saja kelak bermunculan lah pak Haru pak Haru lainnya di Lapas anak yang lain.

(lihat juga judul : “Semoga Inspirasi itu Ada Disana”, category : Lapas Anak)

Special thanks to Anis - Daya Insani yang sudah bersedia berbagi foto denganku.

Nana

July 30, 2008 Posted by Ratna Isnasari | Lapas Anak | , , , , , , | No Comments